Syekh Muhammad Abduh Membagi Ilmu Tafsir Menjadi Dua Tingkatan

Syekh Muhammad Abduh Membagi Ilmu Tafsir Menjadi Dua Tingkatan

Tsaqofatuna.id - Ustaz Ishaq Pengasuh Majelis Ta’lim Nurul Furqon menjelaskan dalam kitab At-Tibyan Fii Ulumil Quran karya Muhammad Ali Ash-Shabuni bahwa Syekh Muhammad Abduh membagi tingkatan-tingkatan ilmu tafsir menjadi dua tingkatan.

“Dalam tingkatan-tingkatan tafsir, Syekh Muhammad Abduh membagi Ilmu Tafsir kepada dua tingkatan, tingkatan yang paling tinggi (المرتبة العليا) dan tingkatan yang paling rendah (المرتبة الدنيا),” jelasnya dalam Kajian Kitab At-Tibyan Fi Ulumil Quran: Tingkatan-tingkatan Tafsir, Selasa (28/3/2023), di Kanal YouTube NgajiPro ID.

Ia menjelaskan, ada beberapa hal yang harus dipenuhi agar sempurna dalam mencapai tingkatan yang paling tinggi (المرتبة العليا). Pertama, memahami hakikat kosa kata yang disebutkan dalam Al Qu’an menurut metode ahli bahasa.

“Artinya mengetahui mufradnya misalkan makna, cara memahami ini adalah diantaranya banyak melihat kepada lughoh, kamus mufradatul qur’an semua sudah cukup,” jelasnya.

Kedua, lanjutnya, mengetahui uslub-uslub yang tinggi, yang demikian itu akan berhasil jika terus menerus berkecimpung di kallam orang Arab yang fasih dengan menekuni, meresapi dalam hal-hal yang unik dan keindahan nya. Adapum yang ketiga, ilmu tentang keadaan atau budaya manusia di zaman itu dan mengetahui sunah-sunah ilahiah dalam perkembangan umat terdahulu dan keadaan mereka dari kekuatan kelemahan, baik buruk dan keimanan kekufuran nya.

“Mengetahui keadaan manusia khususnya di zaman dulu, ketika Allah SWT menceritakan Nabi Yusuf, kita harus tahu keadaan Nabi Yusuf, bagaimana itu tentang kauniyah ini dan itu.Kita harus tahu seakan-akan kita ada di zamannya sehingga kita nanti mantep,” ujarnya.

Ia pun juga melanjutkan yang keempat, mengetahui arah petunjuk hidayah Al Qur’an dari kemanusian dan juga mengetahui apa yang terjadi di orang Arab Jahiliyah dari kehancuran dan kesesatan mereka. Ia pun mencontohkan tentang pensyari’atan ta’addud (poligami) dalam surat An-Nisa ayat 3.

“Ia harus mengetahui arah Qur’an ini kemana dalam memberi pentujuk, dan orang Arab ini kemana, kita bisa mengarahkan. Ketika Allah mesyari’atkan ta’addud (poligami) justru ini memuliakan wanita, karena dulu banyak laki-laki menikah banyak dan tidak terurus istrinya,” ungkapnya.

“Kalau dia buta tentang masa jahiliyah, sejarah jahiliyah lalu hanya tahu tentang Islamnya saja maka dia tidak akan mengetahui keutamaan Islam, tidak tahu betul apa itu Islam,” tambahnya.

Adupun yang kelima, ia menjelaskan bahwa mengetahui siroh nabi Muhammad ﷺ dan sahabatnya apa yang mereka ketahui dan perbuat baik itu berupa perkara dunia akhirat.

“Banyak ternyata hal-hal yang kayak gini, jika kita mengetahui dan ingin betul-betul menjadi orang yang ahli dalam Ilmu Tafsir, makanya kalau kita membaca ini semakin nampak, kita ini jauh sekali para Ulama, bodoh sekali kita ini,” pungkasnya. [] Lukman Indra Bayu

Share this

Previous
Next Post »
Give us your opinion