Memilih Perubahan dalam Ranah Sistem Kepemimpinan

Memilih Perubahan dalam Ranah Sistem Kepemimpinan

Abu Haziq|Aktivis Dakwah

Tsaqofatuna.id - Dalam sistem demokrasi, banyak orang mengira bahwa memilih pemimpin melalui jalan pemilu merupakan solusi perubahan atas negeri ini. Perubahan yang di maksud adalah menuju arah Islam. Namun faktanya pemilu dalam sistem demokrasi justru akan menghambat perubahan yang diingankan tersebut. Hambatan perubahan tersebut pada dasarnya dapat dicermati salah satunya dalam hal kedaulatan. Dalam Islam kedaulatan itu hanya milik Allah swt yaitu syariat Islam. Sedangkan pada sistem demokrasi kedaulatan ada di tangan rakyat. Hal ini mengakibatkan syarat akan kepentingan suatu kelompok atau golongan. Faktanya tampak jelas di negri ini salah satunya UU Minerba dan Omnibus law.

Selain itu dalam sistem demokrasi tidak adanya tolak ukur untuk menentukan kebenaran apalagi halal – haram. Dalam hal ini kebenaran dapat berubah menjadi salah ketika hal itu disepakati bersama. Begitupun sebaliknya. Salah satu contohnya yaitu riba, dalam Islam jelas riba itu haram, bahkan pelakunya pun diperangin oleh Allah swt dan rasul-Nya (QS Al Baqarah 2:278 - 279). Namun dalam sistem demokrasi hal itu diperbolehkan karena dapat memberikan keuntungan bagi negara.

Dari sisi sejarah sistem demokrasi melahirkan peradaban yang rusak, menciptakan kesenjangan sosial, hingga perpecahan antar umat. Berbeda dengan Islam, terbukti mampu menciptakan peradaban yang mulia, mulai dari toleransi antar umat beragama hingga kaum perempuan. Peradaban ini pernah terjadi selama kurang lebih 1400 tahun lamanya, hingga akhirnya runtuh dikarenakan terpengaruhnya kaum Muslim dari pemikiran-pemikiran barat dan lemahnya tsaqafah Islam.

Dalam ranah pendidikan, sistem Islam memberikan metode yang berbeda dengan sistem demokrasi yaitu membentuk kepribadian yang Islami sehingga menciptakan generasi yang tidak hanya berorientasi dunia namun juga akhirat. Hal tersebut di berikan oleh negara secara gratis dan dapat diperoleh oleh seluruh lapisan masyarakat. Sedangkan dalam sistem demokrasi, pendidikan merupakan alat untuk menciptakan suatu materi saja. Artinya pendidikan berfungsi melahirkan generasi yang hanya memikirkan keuntungan materi saja tidak peduli itu dengan cara halal ataupun haram. Salah satu contohnya yaitu sering terjadi kasus korupsi oleh seorang pejabat yang memiliki pendidikan yang tinggi.

Jika dilihat dalam hal pendapatan negara, sistem demokrasi memperoleh pendapatan yang paling besar salah satunya melalui pemungutan pajak. Pemungutan pajak ini berlaku untuk semua lapisan masyarakat. Hal ini tentu memberatkan untuk sebagian kalangan masyarakat yang tidak mampu. Misalnya pada pajak kendaraan bermotor. Meskipun sudah menjadi hak pribadi namun tetap harus membayar sejumlah pajak, bila tidak membayarnya akan terkena sanksi salah satunya pelarangan kendaraan beroperasi. Berbeda dengan sistem Islam, pendapatan diperoleh salah satunya dari sektor real yaitu pengelolaan sumber daya alam yang dikelola oleh negara dan hasilnya untuk semua lapisan masyarakat. Kalaupun ada pungutan pajak, itu dikarenakan kondisi negara sedang tidak stabil. Pungutan pajak ini pun hanya berlaku pada kalangan orang kaya saja.

Secara ekonomi, sistem demokrasi menitikberatkan pada mekanisme pasar dalam memperoleh kekayaan. Sehingga memaksaakan individu masyarakat untuk saling bersaing didalamnya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Tentu ini tidak adil jika beberapa individu tidak memiliki modal dan akhirnya timbul ketimpangan-ketimpangan di lapisan masyarakat. Sedangkan dalam sistem Islam, distribusi kekayaan terwujud secara adil dengan cara menjamin setiap individu dalam kebutuhan dasarnya. Sehingga masyarakat dapat hidup tenang dan fokus ke aktivitas lainnya.

Itulah beberapa perbandingan antara sistem demokrasi dan sitam Islam yang seharusnya menjadi bahan pertimbangan dalam memilih pemimpin. Apakah pemimpin tersebut melanjutkan kepemimpinannya dengan sistem demokrasi atau mungkin melakukan perubahan secara mendasar dengan menggantinya dengan sistem Islam? Padahal negri ini merupakan negri dengan jumlah pemeluk agama Islam terbesar di dunia. Jangan sampai mengaku umat Islam namun menolak sistem Islam karena dianggap ketinggalan zaman dan tidak sesuai dengan founding father di negeri ini.

Share this

Previous
Next Post »
Give us your opinion