Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Hikmah Dan Keutamaan Berjabat Tangan

Hikmah  Dan  Keutamaan Berjabat Tangan

DR Nasrul Syarif M.Si.

Penulis Buku Gizi Spiritual. Ramadhan Maghfirah 1445 H

Tsaqofatuna.id - Sobat. Berjabat tangan adalah praktek yang umum dalam banyak budaya, termasuk dalam Islam. Dalam Islam, terdapat beberapa hikmah atau kebijaksanaan di balik praktik berjabat tangan:

1. Menjalin Hubungan Sosial: Berjabat tangan adalah cara yang umum digunakan untuk menyambut dan berinteraksi dengan orang lain. Ini membantu dalam menjalin hubungan sosial yang baik antara individu, keluarga, dan komunitas.

2. Menunjukkan Keramahan dan Kesopanan: Berjabat tangan adalah tanda keramahan dan kesopanan. Saat seseorang memberikan jabatan tangan kepada orang lain, itu menunjukkan bahwa dia menyambutnya dengan hati terbuka dan menghargai kehadirannya.

3. Menunjukkan Persaudaraan dan Solidaritas: Jabatan tangan juga dapat menjadi simbol persaudaraan dan solidaritas antara sesama Muslim. Ini adalah tindakan yang menunjukkan bahwa individu tersebut adalah bagian dari komunitas Islam yang satu, saling mendukung dan membantu satu sama lain.

4. Meningkatkan Rasa Kepercayaan dan Keharmonisan: Dalam Islam, jabatan tangan juga dianggap sebagai tanda kepercayaan dan keharmonisan antara individu. Dengan memberikan jabatan tangan, seseorang menunjukkan bahwa dia siap untuk berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain dengan saling menghormati.

5. Menghindari Pertentangan dan Ketegangan: Dalam situasi di mana berjabat tangan adalah norma sosial, menolak untuk berjabat tangan dapat menimbulkan ketegangan dan konflik yang tidak perlu. Oleh karena itu, dengan berjabat tangan, individu dapat menghindari potensi konflik atau ketidaknyamanan sosial.

Meskipun berjabat tangan adalah praktik yang umum dan dianjurkan dalam banyak situasi dalam Islam, ada situasi di mana hal itu mungkin tidak sesuai, seperti ketika berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram atau jika seseorang memiliki kondisi kesehatan tertentu yang membuatnya tidak nyaman melakukan kontak fisik. Dalam hal-hal seperti itu, Islam mengajarkan untuk berlaku sopan dan menghormati keadaan individu lainnya.

Hadits Rasulullah ﷺ: " Tidaklah dua muslim lantas berjabat tangan, melainkan akan diampuni dosa di antara keduanya sebelum berpisah." ( HR Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi )

Hadits yang disebutkan adalah salah satu hadits yang menegaskan keutamaan berjabat tangan dalam Islam. Hadits tersebut ditemukan dalam koleksi hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi. Berikut adalah terjemahan lengkap dari hadits tersebut:

"Tidaklah dua Muslim bertemu dan saling berjabat tangan, melainkan dosa-dosa keduanya di antara keduanya akan diampuni sebelum mereka berpisah."

Hadits ini menegaskan bahwa setiap kali dua Muslim bertemu dan berjabat tangan, dosa-dosa mereka yang terjadi di antara keduanya akan diampuni oleh Allah SWT. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan berjabat tangan dalam Islam tidak hanya merupakan tindakan sosial biasa, tetapi juga memiliki implikasi spiritual yang besar.

Dengan demikian, praktik berjabat tangan bukan hanya sebagai bentuk keramahan dan kesopanan, tetapi juga sebagai cara untuk mendapatkan pengampunan dosa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ini adalah salah satu contoh bagaimana Islam mengajarkan umatnya untuk membangun hubungan sosial yang baik dan menghargai interaksi antar sesama Muslim dengan memberikan keutamaan spiritual kepada tindakan-tindakan tersebut.

Jabatan tangan amalan para sahabat nabi, amalan kecil tetapi berpahala begitu hebatnya. Sampai-sampai bisa mengugurkan dosa-dosa kita

Benar sekali, praktik berjabat tangan adalah salah satu amalan kecil yang memiliki keutamaan besar dalam Islam. Para Sahabat Nabi Muhammad SAW adalah contoh yang sangat baik dalam menjalankan praktik ini. Mereka tidak hanya mengikuti sunnah Nabi dalam segala hal, tetapi juga mempraktikkan keramahan, kesopanan, dan solidaritas antara sesama Muslim.

Praktik berjabat tangan tidak hanya merupakan tindakan sosial biasa, tetapi juga memiliki nilai-nilai spiritual yang mendalam dalam Islam. Dengan memberikan jabatan tangan kepada orang lain, seseorang menunjukkan keramahan, kesopanan, dan kesediaan untuk berkomunikasi dan bekerja sama. Ini adalah bentuk kebaikan yang sederhana namun penting dalam memperkuat hubungan sosial dan persaudaraan di antara umat Muslim.

Selain itu, hadits yang disebutkan sebelumnya juga menegaskan bahwa berjabat tangan antara dua Muslim akan menghapus dosa-dosa di antara keduanya sebelum mereka berpisah. Hal ini menunjukkan betapa besar nilainya dalam Islam, bahwa tindakan kecil seperti berjabat tangan dapat memiliki implikasi besar dalam mendapatkan pengampunan dosa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dengan demikian, kita dapat belajar dari praktik dan teladan para Sahabat Nabi dalam menjalankan amalan-amalan kecil yang memiliki keutamaan besar dalam Islam. Praktik berjabat tangan bukan hanya sebagai tindakan sopan santun, tetapi juga sebagai cara untuk meningkatkan hubungan sosial, memperoleh keberkahan, dan mendapatkan pahala di sisi Allah SWT.

Keutamaan berjabat tangan dalam Sunnah Nabi Muhammad SAW

Dalam Sunnah Nabi Muhammad SAW, terdapat beberapa hadits yang menegaskan keutamaan dan nilai penting dari praktik berjabat tangan. Berikut adalah beberapa hadits yang mencatat keutamaan berjabat tangan dalam Sunnah Nabi Muhammad SAW:

1. Keutamaan Berjabat Tangan dalam Pertemuan: Rasulullah Muhammad SAW bersabda: "Janganlah dua orang Muslim bertemu, kemudian berjabat tangan, kecuali dosa-dosa keduanya diampuni sebelum keduanya berpisah." (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

2. Menunjukkan Kasih Sayang: Rasulullah SAW juga bersabda: "Seseorang di antara kamu tidak dapat mencapai tingkat iman yang sempurna hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." Lalu ditanya, "Bagaimana jika seseorang itu tidak bisa?" Rasulullah SAW menjawab, "Mengajarkan kepada saudaranya ucapan salam ketika bertemu dengannya." (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Menjalin Persaudaraan: Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda: "Wahai sekalian manusia! Sebarkanlah salam di antara kalian, berikanlah makanan kepada orang-orang yang tidak kalian kenal, dan berjabat tanganlah sebagai tanda persaudaraan. Dengan melakukan hal itu, kalian akan masuk surga dengan selamat." (HR. At-Tirmidzi).

Dari hadits-hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam Sunnah Nabi Muhammad SAW, berjabat tangan bukan hanya sekadar tindakan sosial biasa, tetapi juga memiliki nilai spiritual yang besar. Praktik ini membawa berkah, menghapus dosa, dan memperkuat ikatan persaudaraan di antara umat Islam.

Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya saling mencintai, menyebarkan salam, dan memberikan makanan kepada sesama. Berjabat tangan adalah salah satu cara untuk mengekspresikan cinta, menyambut dengan baik, dan menjalin persaudaraan di antara umat Islam.

Dengan demikian, berjabat tangan dalam Islam bukan hanya tindakan fisik, tetapi juga merupakan simbol dari kesopanan, kasih sayang, dan persaudaraan yang harus dijunjung tinggi dalam kehidupan sehari-hari umat Islam.

Membelanjakan Harta di Jalan Allah

Membelanjakan Harta di Jalan Allah

DR Nasrul Syarif M.Si.

Penulis Buku Gizi Spiritual. Ramadhan Maghfirah 1445H

Allah SWT berfirman :

وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلۡقُواْ بِأَيۡدِيكُمۡ إِلَى ٱلتَّهۡلُكَةِ وَأَحۡسِنُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” ( QS. Al-Baqarah (2) : 195 )

Tsaqofatuna.id - Sobat. Orang-orang mukmin diperintahkan membelanjakan harta kekayaannya untuk berjihad fi sabilillah dan dilarang menjatuhkan dirinya ke dalam jurang kebinasaan karena kebakhilannya. Jika suatu kaum menghadapi peperangan sedangkan mereka kikir, tidak mau membiayai peperangan itu, maka perbuatannya itu berarti membinasakan diri mereka.

Menghadapi jihad dengan tidak ada persiapan serta persediaan yang lengkap dan berjihad bersama-sama dengan orang-orang yang lemah iman dan kemauannya, niscaya akan membawa kepada kebinasaan. Dalam hal infaq fi sabilillah orang harus mempunyai niat yang baik, agar dengan demikian ia akan selalu memperoleh pertolongan Allah.

Sobat. Harta yang kita miliki adalah titipan Allah SWT, Maka nanti di Yaumil Akhir akan dihisab dengan dua pertanyaan : Dari mana asal memperoleh harta? ke mana harta itu dibelanjakan? Benar, dalam ajaran Islam, harta yang dimiliki dianggap sebagai titipan dari Allah SWT, dan manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas bagaimana harta tersebut diperoleh dan digunakan pada hari Kiamat. Dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW, disebutkan bahwa seseorang akan dimintai pertanggungjawaban atas harta yang diperolehnya dari sumber yang halal dan bagaimana harta tersebut digunakan selama hidupnya.

Dalam konteks ini, pertanyaan "Dari mana asal memperoleh harta?" menyoroti apakah sumber pendapatan seseorang berasal dari yang halal atau tidak. Harta yang diperoleh dari cara-cara yang tidak halal, seperti penipuan, korupsi, atau kecurangan, dianggap tidak sah menurut ajaran Islam.

Sedangkan pertanyaan "Ke mana harta itu dibelanjakan?" menyoroti bagaimana harta tersebut digunakan selama hidupnya. Islam mengajarkan untuk menggunakan harta dengan cara yang baik dan bermanfaat, seperti untuk keperluan pribadi dan keluarga, serta untuk membantu orang lain yang membutuhkan, seperti memberikan sedekah dan amal.

Penting untuk diingat bahwa dalam Islam, memperoleh harta secara halal dan menggunakan harta tersebut dengan cara yang baik merupakan bagian penting dari ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT. Pada hari Kiamat, manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas semua amal perbuatannya, termasuk bagaimana mereka memperoleh dan menggunakan harta mereka.

Agar harta kita menjadi berkah, ada beberapa hal yang dapat dilakukan menurut ajaran Islam:

1. Memperoleh harta dari sumber yang halal: Pastikan bahwa sumber pendapatan kita bersumber dari cara yang halal dan diperoleh dengan cara yang baik dan sesuai dengan prinsip-prinsip agama.

2. Menunaikan zakat: Zakat adalah kewajiban bagi umat Islam yang mampu, yang merupakan pengeluaran sebagian dari harta yang dimiliki untuk diberikan kepada yang berhak menerima, seperti fakir miskin, asnaf, dan lainnya. Menunaikan zakat secara rutin membantu membersihkan harta dari unsur-unsur yang tidak baik dan meningkatkan berkah dalam harta.

3. Memberikan sedekah: Selain zakat, memberikan sedekah juga merupakan cara untuk membersihkan harta dan mendatangkan berkah. Sedekah tidak hanya berupa harta, tetapi juga bisa berupa waktu, tenaga, atau keahlian.

4. Menggunakan harta dengan bijak: Mengelola harta dengan bijak, termasuk merencanakan pengeluaran, berinvestasi secara cerdas, dan menghindari pemborosan, akan membantu mempertahankan berkah dalam harta.

5. Berbuat baik kepada sesama: Menggunakan harta untuk membantu sesama manusia, seperti memberikan bantuan kepada yang membutuhkan, membangun infrastruktur sosial, atau menyumbang untuk tujuan kemanusiaan, juga dapat membawa berkah dalam harta.

6. Berdoa kepada Allah SWT: Berdoa kepada Allah SWT untuk memberkahi harta yang dimiliki dan meminta petunjuk-Nya dalam mengelola harta juga penting. Kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam pengelolaan harta, adalah kunci untuk mendapatkan berkah.

Dengan mengikuti prinsip-prinsip ini, diharapkan harta kita akan menjadi berkah dan mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat secara luas.

Kehalalan harta kita adalah inti keberkahan hidup

Benar sekali. Kehalalan harta adalah inti dari keberkahan hidup menurut ajaran Islam. Harta yang diperoleh dari sumber yang halal, yaitu dengan cara-cara yang sesuai dengan prinsip-prinsip agama dan hukum yang berlaku, merupakan fondasi penting untuk mendapatkan berkah dalam hidup.

Kehalalan harta mencakup berbagai aspek, termasuk sumber pendapatan, cara mendapatkan harta, dan penggunaan harta tersebut. Dalam Islam, harta yang diperoleh dari cara yang halal dianggap sebagai berkah karena selaras dengan kehendak Allah SWT dan mengikuti aturan yang ditetapkan dalam agama.

Seseorang yang memperoleh harta dari sumber yang halal akan merasakan berkah dalam kehidupannya, baik secara materiil maupun spiritual. Kehalalan harta memastikan bahwa tidak ada unsur dosa atau kesalahan dalam proses memperolehnya, sehingga harta tersebut menjadi murni dan bermanfaat bagi kehidupan individu dan masyarakat.

Dengan menjadikan kehalalan harta sebagai fokus utama dalam mencari nafkah dan mengelola kekayaan, seseorang dapat mengharapkan berkah yang melimpah dari Allah SWT dalam segala aspek kehidupannya.

Membelanjakan harta di jalan kebaikan membuat hidup kita berkah dan bikin hidup lebih hidup.

Tepat sekali. Membelanjakan harta di jalan kebaikan tidak hanya memberikan manfaat bagi orang lain, tetapi juga membawa berkah dan kebahagiaan bagi diri sendiri. Islam mengajarkan pentingnya berbuat baik kepada sesama dan mempergunakan harta dengan cara yang baik dan bermanfaat.

Membelanjakan harta di jalan kebaikan dapat berupa berbagai bentuk, seperti memberikan sedekah kepada yang membutuhkan, menyumbang untuk tujuan kemanusiaan, membangun infrastruktur sosial, membantu pendidikan anak-anak yang kurang mampu, atau mendukung usaha-usaha yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Tindakan ini tidak hanya membawa manfaat materiil bagi penerima bantuan, tetapi juga memberikan kepuasan batin bagi pemberi bantuan. Rasulullah SAW telah mengajarkan bahwa memberikan sedekah tidak akan mengurangi harta seseorang, bahkan dapat membawa keberkahan dan pertumbuhan dalam harta tersebut.

Selain itu, dengan membantu orang lain dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial yang bermanfaat, kita juga dapat memperluas jaringan sosial, memperoleh pengalaman baru, dan mendapatkan rasa kepuasan yang mendalam karena dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Dengan demikian, membiasakan diri untuk membantu sesama dan menggunakan harta untuk tujuan yang baik dan bermanfaat akan membawa berkah bagi kehidupan kita sendiri serta membuat hidup menjadi lebih berarti dan penuh makna.

Ingatlah selalu dalam kebaikan terkandung nikmat keberkahan dari Allah SWT.

Betul sekali. Dalam setiap tindakan kebaikan yang kita lakukan, terkandung nikmat keberkahan dari Allah SWT. Dalam ajaran Islam, Allah SWT menjanjikan berkah dan balasan yang melimpah bagi setiap amal baik yang dilakukan hamba-Nya dengan tulus dan ikhlas.

Menanamkan kesadaran akan nikmat keberkahan dalam setiap tindakan kebaikan adalah penting dalam memperkokoh iman dan menjaga hubungan kita dengan Allah SWT. Ketika kita melakukan kebaikan dengan niat yang tulus dan ikhlas, Allah SWT akan memberikan berkah dalam berbagai bentuk, baik dalam kehidupan dunia maupun di akhirat.

Nikmat keberkahan dari Allah SWT juga bisa dirasakan melalui perasaan damai dan kebahagiaan yang kita rasakan saat kita berbuat baik kepada sesama. Hal ini membuktikan bahwa Allah SWT senantiasa hadir dalam setiap tindakan kebaikan yang kita lakukan dan memberikan dukungan serta perlindungan-Nya.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu mengingat dan mensyukuri nikmat keberkahan dari Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan kita, terutama dalam melakukan kebaikan kepada sesama. Dengan demikian, kita dapat terus termotivasi untuk melakukan amal kebaikan yang lebih banyak lagi dan menjadikan hidup kita lebih bermakna dan berkah.

Manejemen pengelolaan Harta dalam Islam

Manajemen pengelolaan harta dalam Islam sangat ditekankan untuk memastikan bahwa harta yang dimiliki dikelola dengan bijak dan sesuai dengan prinsip-prinsip agama. Berikut adalah beberapa prinsip dasar dalam manajemen pengelolaan harta dalam Islam:

1. Kehalalan: Prinsip utama dalam manajemen pengelolaan harta dalam Islam adalah memastikan bahwa harta tersebut diperoleh dari sumber yang halal dan sesuai dengan hukum syariah. Hal ini mencakup memastikan bahwa pendapatan berasal dari usaha yang halal, investasi yang tidak melanggar prinsip syariah, dan menghindari segala bentuk penipuan, riba, atau sumber pendapatan yang tidak sah.

2. Zakat: Zakat merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu, yaitu memberikan sebagian dari harta yang dimiliki kepada yang berhak menerima, seperti fakir miskin, asnaf, dan lainnya. Zakat bukan hanya merupakan kewajiban, tetapi juga merupakan bagian dari manajemen pengelolaan harta yang menghilangkan sifat kikir dan membantu membersihkan harta dari unsur-unsur yang tidak baik.

3. Bersikap hemat dan tidak boros: Islam mengajarkan untuk bersikap hemat dan tidak boros dalam menggunakan harta. Ini termasuk merencanakan pengeluaran dengan bijak, menghindari pemborosan pada hal-hal yang tidak penting, dan memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan yang benar-benar diperlukan.

4. Berinvestasi dengan bijak: Islam mendorong umatnya untuk berinvestasi dengan bijak untuk meningkatkan nilai harta dan mendapatkan penghasilan tambahan. Namun, investasi harus dilakukan sesuai dengan prinsip syariah, menghindari investasi yang melanggar hukum agama, seperti investasi dalam perjudian, alkohol, atau industri yang merugikan lingkungan.

5. Memberikan sedekah dan infaq: Selain zakat, memberikan sedekah dan infaq juga merupakan bagian penting dari manajemen pengelolaan harta dalam Islam. Sedekah dan infaq membantu membersihkan harta dari sifat keserakahan, meningkatkan rasa empati terhadap sesama, dan mendatangkan berkah dalam kehidupan.

6. Berdoa dan berserah diri kepada Allah SWT: Dalam manajemen pengelolaan harta, penting untuk selalu berdoa dan berserah diri kepada Allah SWT. Meminta petunjuk-Nya dalam setiap keputusan finansial, bersyukur atas nikmat yang diberikan, dan memohon perlindungan-Nya dari sifat serakah dan boros merupakan bagian integral dari manajemen harta dalam Islam.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini dalam manajemen pengelolaan harta, seorang Muslim diharapkan dapat mengelola harta dengan bijak, mendapatkan berkah dalam kehidupan dunia dan akhirat, serta memperoleh kebahagiaan yang sejati dalam hidup.

Utang Riba Bikin Sejahtera? Gimana Bisa?

Utang Riba Bikin Sejahtera? Gimana Bisa?
Ustadz Labib: Sebuah Kezaliman Menjamu Israel yang Memerangi Palestina

Oleh: Achmad Luthfi

Pemerhati Anak Muda

Tsaqofatuna.id - Hai, sekarang saya mau cerita soal utang negara, guys! Jadi, ceritanya utang negara-negara berkembang lagi pada ngegas, termasuk negara kita nih, Indonesia. Utangnya terus meroket setiap tahun. World Bank pernah ngomong, utang bener-bener bikin negara krisis, terutama yang ekonominya lagi goyah. Tapi, ada yang bilang ke kita-kita, "Santai aja, bro, utang kita masih aman!"

Oke lah, ini ada update terkini dari Kemenkeu! Utang pemerintah kita naik lagi, tembus Rp8.253,09 triliun per Januari 2024. Naik sekitar Rp108,4 triliun dari Desember 2023, yang waktu itu sudah mencapai Rp8.144,69 triliun. Rincian jelasnya kayak gini nih, utang ini terdiri dari Surat Berharga Negara (SBN), yaitu 88,19 persen atau Rp7.278,03 triliun. Sisanya, 11,81 persen atau Rp975,06 triliun, itu dari pinjaman. Kalo diurai lagi, SBN punya dua jenis, bro, ada SBN domestik yang mencapai Rp5.873,38 triliun, terdiri dari Surat Utang Negara (SUN) Rp4.741,85 triliun dan SBN Syariah Rp1.131,54 triliun. Sementara SBN Valuta Asing sudah, yang dalam mata uang asing, ada SUN Rp1.058,17 triliun dan SBN Syariah Rp346,49 triliun. Selain itu, utang dari pinjaman juga jadi bagian penting. Pinjaman dalam negeri mencapai Rp36,23 triliun, dan pinjaman luar negeri sebesar Rp938,83 triliun (cnnindonesia.com, 27/02/2024).

Nah, ada juga yang bilang tenang aja lah, toh rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih di bawah batas aman (60%), cuma 38,75 persen. Tapi, hati-hati guys, statement seperti ini perlu di sikapi serius. Soalnya, menurut saya PDB itu gak bisa jadi cerminan kemampuan negara bayar utang. Alasan kalo rasio rendah artinya aman itu bisa bias dan membingungkan. Ada yang ngebahas juga, membandingkan rasio utang kita dengan negara maju. Meskipun utang kita lebih kecil daripada negara maju kayak Amerika Serikat dan Jepang, tapi nggak berarti aman, loh!

Bro, cek nih penjelasan Ekonom Awalil Rizky di Channel YouTube! katanya, rasio utang negara terhadap pendapatan sampai 310,93% pada tahun 2023, terus 317,63% di tahun 2024. Sudah melebihi saran International Monetary Fund (IMF) sama International Debt Relief (IDR) yang bilang aman kalo berada di kisaran 90-150% atau 92-167%.

Di sisi lain, sepertinya negara kita sudah jatuh ke dalam jebakan utang, guys! Bayar utang bukan buat modal produktif, tapi buat bayar utang lagi. Tragisnya, duitnya nggak buat bayar pokok utang, tapi buat bayar bunganya.

Utang di sistem ekonomi kapitalis ini suka gak suka juga bikin bunga utang. Utangnya aja sudah ngebebanin Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), apalagi ditambah dengan bunga utangnya. Dimana pendapatan terbesar untuk membiayai APBN sumbernya dari pajak rakyat. Bisa jadi rakyat sendiri yang bayar pajak, tapi nggak ngerasain manfaat utangnya secara langsung. Malah hidupnya makin susah karena terkadang ada kebijakan pemotongan subsidi seperti untuk bahan bakar, kesehatan, pupuk, dan lain-lain. Sedangkan, utangnya terus meroket, baik pokok maupun bunganya, dan harus dibayarin dari uang pajak rakyat.

Yuk kita simak lagi penjelasan Ekonom Awalil Rizky di Channel YouTube! Bunga yang harus Pemerintah bayar juga nggak main-main loh. Bayar bunga utang tahun 2023 aja sudah Rp 437,4 triliun, tahun 2024 malah Rp 497,32 triliun. Bener-bener makan APBN, uang segitu gede buat bayar bunga utang doang! Terus, rasio bayar bunga utang sampe 16,59% tahun 2023, dan 17,75% tahun 2024. Jauh banget dari saran IMF dan IDR yang aman 7-10% atau 4,6-6,8%. Gimana, bro!

Utang berbunga (riba), gak peduli alasannya, itu haram loh. Umat Islam harus bangun bro, lepas dari utang riba. Kita harus sadar, ini gak bakal kelar kalo Indonesia masih percaya sama ekonomi ekonomi kapitalis yang membolehkan riba. Padahal Allah sudah bilang: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan tinggalkan sisa-sisa riba jika kalian adalah kaum Mukmin “, (TQS al-Baqarah [2]: 278).

Sistem ekonomi kapitalis juga bikin riba merata ke seluruh negeri, loh. Bahkan yang gak terlibat langsung sama riba bisa kena dampaknya, kayak yang pernah dibilang Rasulullah SAW, " Akan datang suatu zaman kepada manusia. Saat itu mereka memakan riba. Kalaupun ada orang tidak memakan riba secara langsung, dia akan terkena debunya “ (HR an-Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan al-Hakim). Emang kerasa banget dampaknya.

Rusaknya ekonomi negeri ini dan jeratan utang riba yang mencekik tidak akan selesai hanya dengan pergantian kepemimpinan. Harus ada perubahan, bro, ke arah penerapan syariah Islam dalam segala aspek kehidupan. Gak bisa lagi main di sistem ekonomi kapitalis kayak sekarang. Apapun pemimpinnya, kalo gak bawa syariah Islam, pasti bakal tetep terjerat sama utang riba yang haram dan pasti bikin susah hidup.

Harusnya negara punya ekonomi yang mandiri, guys! Tapi kemandirian ekonomi itu baru bisa muncul kalo kita ngikutin syariah yang diperintahkan sama Allah SWT, gitu loh. Coba cek sejarah, bro! Negara yang dibangun sama Rasulullah SAW, ekonominya jadi kuat dan politiknya juga mantap. Jadi negara yang bisa merdeka dan bener-bener bikin rakyatnya sejahtera. Kesejahteraan dalam Islam itu dihitung per orang, guys! Nah, kesejahteraan itu beneran terjadi lewat sistem keuangan negara Islam yang ngatur harta yang didapat dan dialokasikan (distribusi) ke yang berhak.

Ada tiga sumber pendapatan yang masuk ke Baitul Mal: Pertama, ada fa'i kharaj dan jizyah, guys. Kedua, dari hasil pengaturan aset umum kayak barang tambang dan hutan. Ketiga, ada sumber pemasukan lain, kayak zakat harta, zakat ternak, zakat pertanian, sampe bisnis emas dan perak. Ini tiga sumber pendapatan yang bakal mengalirkan harta ke Baitul Mal, sehingga bida fokus di sektor yang produktif dan nggak terjerat utang riba. Plus, rakyat gak dibebanin pajak di mana-mana. Keren, kan?

Sistem ekonomi Islam juga membagi harta kekayaan jadi tiga, guys: kemilikan individu, kemilikan umum, dan kemilikan negara. Semua ini membantu banget kontribusinya ke Baitul Mal, yang paling gede itu dari harta kemilikan umum, yaitu sumber daya alam yang diurus sama negara dan harta kemilikan negara yang dikelola sama negara.

Kalo sistem Islam dijalankan, APBN bisa surplus, bro! Karena pendapatan yang diterima dari berbagai sumber pendapatan lebih besar dari pengeluarannya, jadi nggak perlu tarik pajak masyarakat atau berutang untuk menutup biaya operasionalnya. Ini beneran bukti keadilan dan kekuatan sistem keuangan negara Islam, guys!

Semangat banget nih, guys! Yuk, sama-sama belajar dan pikirin masa depan ekonomi kita dengan bijak!

Orang-orang Yang Dirindukan Surga

Orang-orang Yang Dirindukan Surga

DR Nasrul Syarif M.Si.

(Penulis Buku Gizi Spiritual dan Buku BIGWIN. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo. Wakil Ketua Komnas Pendidikan Jawa Timur)

Tsaqofatuna.id - Sobat. Umat Muhammad SAW banyak dikasih keistemewaan dan Keutamaan yang belum pernah diberikan kepada umat sebelumnya. Salah satu diantaranya diberi Bulan Ramadhan yang bulan penuh berkah dan Ampunan dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “ Barangsiapa merasa gembira dengan masuknya bulan Ramadhan , maka Allah mengharamkan tubuhnya terhadap neraka.”

Dari Ibnu Abbas ra bahwa dia mengatakan : “ Pernah saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “ Sekiranya umatku tahu apa yang ada pada bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar setahun penuh menjadi Ramadhan. Karena pada bulan itu kebaikan dihimpun, ketaatan diterima, doa-doa dikabulkan, dosa-dosa diampuni, sedangkan surga merindukan mereka.”

OLeh karena itu Rasulullah SAW bersabda, “ Surga itu rindu kepada empat orang : Orang yang membaca A-Qur’an. Orang yang menjaga lidahnya. Orang yang memberi makan kepada mereka yang kelaparan. Dan orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan.

Allah SWT berfirman :

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتۡلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ يَرۡجُونَ تِجَٰرَةٗ لَّن تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمۡ أُجُورَهُمۡ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضۡلِهِۦٓۚ إِنَّهُۥ غَفُورٞ شَكُورٞ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” ( QS. Fathir (35) : 29-30 )

Sobat. Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa orang-orang yang selalu membaca Al-Qur'an, meyakini berita, mempelajari kata dan maknanya lalu diamalkan, mengikuti perintah, menjauhi larangan, mengerjakan salat pada waktunya sesuai dengan cara yang telah ditetapkan dan dengan penuh ikhlas dan khusyuk, menafkahkan harta bendanya tanpa berlebih-lebihan dengan ikhlas tanpa ria, baik secara diam-diam atau terang-terangan, mereka adalah orang yang mengamalkan ilmunya dan berbuat baik dengan Tuhan mereka. Mereka itu ibarat pedagang yang tidak merugi, tetapi memperoleh pahala yang berlipat ganda sebagai karunia Allah, berdasarkan amal baktinya. Firman Allah:

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Allah akan menyempurnakan pahala bagi mereka dan menambah sebagian dari karunia-Nya. (an-Nisa'/4: 173)

Selain dari itu, mereka juga akan memperoleh ampunan atas kesalahan dan kejahatan yang telah dilakukan, karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri hamba-hamba-Nya, memberikan pahala yang sempurna terhadap amal-amal mereka, memaafkan kesalahannya dan menambah nikmat-Nya. Sejalan dengan ini firman Allah:

Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri. (asy-Syura/42: 23)

Allah SWT berfirman :

وَٱلَّذِيٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ هُوَ ٱلۡحَقُّ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِۗ إِنَّ ٱللَّهَ بِعِبَادِهِۦ لَخَبِيرُۢ بَصِيرٞ

“Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Quran) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” ( QS. Fathir (35) : 31 )

Sobat. Sesungguhnya Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah Kitabullah yang benar-benar diturunkan dari Allah. Oleh karena itu, Allah mewajibkan kepada Nabi dan kepada segenap umatnya untuk mengamalkan ajarannya dan mengikuti pedoman-pedoman hidup yang terdapat di dalamnya. Bila seorang muslim telah mematuhi secara sempurna ajaran Al-Qur'an itu, maka ia tidak perlu lagi mengamalkan kitab-kitab suci sebelumnya, sekalipun diwajibkan untuk mengimaninya.

Sebab apa yang pernah diterangkan dalam kitab-kitab sebelumnya, telah dibenarkan oleh Al-Qur'an. Dengan kata lain, beriman dengan kitab-kitab suci yang pernah diturunkan kepada para rasul sebelum Nabi Muhammad bukan berarti mengamalkan ajarannya, tetapi cukup mengimani kebenarannya, sebab intisari dari apa yang tercantum dalam kitab-kitab itu telah tertera pula dalam Al-Qur'an. Allah Maha Mengetahui perihal hamba-Nya. Allah Mahateliti akan aturan-aturan hidup yang perlu bagi mereka. Atas dasar itulah Dia menetapkan aturan dan hukum-hukum yang sesuai dengan kehidupan mereka, di mana dan kapan mereka berada. Guna kesejahteraan manusia seutuhnya, Allah mengutus para rasul dengan tugas menyampaikan syariat-Nya, di mana Nabi Muhammad adalah rasul terakhir yang diutus untuk sekalian manusia sampai hari Kiamat. Risalah dan syariat yang dibawanya kekal dan abadi sampai tibanya hari Kiamat.

Firman Allah:

Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya. (al-An'am/6: 124)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa maksud pengetahuan Allah yang Mahaluas mengenai perihal hamba-Nya itu ialah Dia mengangkat derajat para nabi dan rasul melebihi manusia keseluruhannya. Bahkan di antara mereka (para nabi) itu sendiri berbeda-beda tingkat ketinggiannya, dan kedudukan Nabi Muhammad melebihi semua mereka.

Sobat. Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata Manusia itu terbagi menjadi tiga golongan dalam Ibadah atau penyembahan dan tiap-tiap golongan mempunyai ciri khas tersendiri. Adapun ketiga golongan tersebut adalah :

1. Golongan manusia yang menyembah Allah karena takut terhadap azab-Nya. Ciri-ciri khasnya ; Merendahkan dirinya dihadapan Allah, Menganggap kebaikannya sedikit. Menganggap keburukannya banyak.

2. Golongan manusia yang menyembah Allah karena berharap rahmat-Nya. Ciri-cirinya ; Menjadi teladan bagi orang lain dalam segala kondisi. Menjadi paling dermawan dengan harta dunianya karena dia zuhud dalam urusan duniawi. Selalu berbaik sangka kepada Allah terhadap segala yag diciptakan-Nya.

3. Golongan manusia yang menyembah Allah karena cinta kepada-Nya. Adapun ciri-cirinya sebagai berikut ; Akan memberikan apa yang dicintainya dan tidak menghiraukan apa pun jika telah mendapatkan ridha Allah SWT.Akan mengerjakan amal sholeh sekalipun kemauannya menolak dan tidak memberi ruang untuk mengikuti hawa nafsu, yang penting Allah meridhainya. Selalu menaati perintah Tuhannya dan menjauhi larangan-Nya.

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَأَجۡرٞ كَبِيرٞ

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” ( QS. Al-Mulk (67) : 12 )

Sobat. Ayat ini menerangkan tanda-tanda orang bertakwa yang tunduk dan patuh kepada Allah, dan yakin bahwa Allah mengetahui segala yang mereka lakukan baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Tanda-tanda itu ialah:

1. Senantiasa takut kepada azab Allah walaupun azab itu merupakan suatu yang gaib, tidak tampak dan belum tentu kapan datangnya.

2. Merasa takut akan kedatangan hari Kiamat, karena mengingat malapetaka yang akan terjadi pada diri mereka seandainya mengingkari Allah, seperti peristiwa yang akan terjadi pada hari perhitungan, hari pembalasan, dan azab neraka yang tiada terkirakan.

3. Yakin dan percaya bahwa Allah selalu mengawasi, memperhatikan, dan mengetahui di mana dan dalam keadaan bagaimana mereka setiap saat.

Dalam hadis Nabi Muhammad disebutkan:

Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah saw bersabda, "Tak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah. (Riwayat at-Tirmidhi, an-Nasa'i, Ahmad, al-hakim, dan lainnya)

Orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh, tidak ada kekhawatiran terhadap diri mereka dan mereka tidak bersedih hati terhadap segala sesuatu yang luput dari mereka, sebagaimana firman Allah:

Sungguh, orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (al-Baqarah/2: 277)

Orang-orang yang beriman dan taat kepada Allah selalu merasa mendapat pengawasan dari-Nya. Mereka yakin bahwa Dia melihat dan memperhatikan mereka, sebagaimana yang diucapkan Nabi Muhammad dalam konteks ihsan: Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu. (Riwayat al-Bukhari, Muslim, dan Abu Hurairah)

Allah menjanjikan bahwa orang-orang mukmin yang bersifat demikian akan diampuni dosa-dosanya dan akan diberi pahala yang besar di akhirat kelak.

Fenomena Rental Girlfriend, Generasi Muda Sedang Menuju Kemunduran

Fenomena Rental Girlfriend, Generasi Muda Sedang Menuju Kemunduran

Oleh : Abu Ai (Wibu Ideologis)

Tsaqofatuna.id - Rental Girlfriend atau sewa pacar beberapa tahun ini menjadi viral di kalangan masyarakat terkhusus bagi para pemuda. Tren ini bermula dari Jepang sekitar tahun 2012 yang akhirnya saat ini sudah merambah ke Indonesia. Dilansir dari Suara.com, mereka kerap menjajakan jasanya melalui akun Instagram dan telah beroperasi di beberapa kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Pekanbaru, dan Yogyakarta. Jasa Rental Girlfriend ini biasanya memposisikan dirinya sebagai agen, sehingga mereka punya banyak sekali talent dan membuat harga yang di tawarkan pun cukup bervariatif.

Mereka meraup keuntungan dengan cara memanfaatkan rasa kesepian para jomblo. Mereka juga memberi iming-iming kepada para jomblo yang ter-bully akibat tak miliki seorang kekasih.

Hal ini sangat menggiurkan bagi para kawula muda, karena bisa melampiaskan rasa tersebut tanpa harus galau memikirkan perasaan cinta yang sangat rumit. Mereka juga bisa membawa kemanapun pacar yang disewanya bahkan mereka juga bisa memamerkannya.

Dalam Islam tentu hal ini tidak di perbolehkan. Bayangkan, hukum pacaran saja dalam Islam adalah haram, apalagi menyewa pacar. Tentu tak ada bedanya dengan pelacur, meski berbeda antara hukuman bagi orang yang pacaran dengan orang yang berzina, namun mereka sama sama dibayar untuk bermaksiat kepada Allah. Sesuai dengan kaidah :

وما أدى إلى الحرام فهو حرام

Apa saja yang dapat terlaksananya perbuatan haram, maka itu juga haram. (Imam Izzuddin bin Abdussalam,Qawaid Al Ahkam fi Mashalihil Anam, 2/184. Syaikh Zakariya bin Ghulam Qadir Al Bakistani, Ushul Al Fiqh ‘Ala Manhaj Ahlil Hadits, Hal. 114)

Tentu ketika mereka menyewa pacar juga aktifitas mereka juga tak jauh-jauh dari pacaran, dan Allah pun melarang kita untuk berpacaran tanpa adanya ikatan pernikahan. Dalam QS. Al-isra’ ayat 32, Allah SWT menegaskan bahwasanya kita tidak boleh mendekati zina, bayangkan saja untuk mendekati saja kita tidak di perbolehkan apalagi dengan berzinanya. Tentu banyak sekali aktivitas yang mendekatkan pada zina, namun aktivitas tersebut banyak terjadi pada pacaran. Semisal larangan untuk berduaan dengan yang bukan mahram, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا يخلون أحدكم بامرأة فإن الشيطان ثالثهما

“Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad).

Tentu tak hanya itu bahkan dalam Islam juga kita dilarang untuk menyentuh wanita yang bukan mahram, apalagi sampai bergandengan tangan atau berpelukan jelas itu sangat dilarang. Bahkan dalam Hadits ini diriwayatkan Imam ath-Thabrâni dalam al-Mujamul Kabîr, dengan tegas Rasulullah SAW mengatakan bahwa seorang laki-laki ditusuk dengan jarum besi itu lebih baik daripada menyentuh wanita yang bukan mahram.

Bahkan dalam QS An-Nur Ayat 30-31 kita di perintahkan untuk menjaga pandangan kita kepada wanita yang bukan mahrom, lalu bagaimana dengan pacaran? Tentu tak afdol rasanya jika berbicara tanpa saling bertatapan bukan?

Memang sudah selayaknya kita sebagai seorang muslim, terkhusus bagi yang masih muda, tidak mengikuti budaya dari kaum sekuler yang memang dasarnya mereka menjauhkan agama dari kehidupan dunia ini. Memang menginginkan hal tersebut adalah fitrah kita sebagai manusia, namun penyalurannya juga harus menggunakan cara yang benar, yakni menikah dan ini di benarkan dalam Islam. Bahkan dalam Islam, menikah merupakan penyempurna dari separuh agama, yang mana pula dengan menikah kita bisa dengan bebas saling memandang, bersentuhan, bahkan berduaan tanpa harus khawatir dosa, malah justru berpahala.

Memilih Perubahan dalam Ranah Sistem Kepemimpinan

Memilih Perubahan dalam Ranah Sistem Kepemimpinan

Abu Haziq|Aktivis Dakwah

Tsaqofatuna.id - Dalam sistem demokrasi, banyak orang mengira bahwa memilih pemimpin melalui jalan pemilu merupakan solusi perubahan atas negeri ini. Perubahan yang di maksud adalah menuju arah Islam. Namun faktanya pemilu dalam sistem demokrasi justru akan menghambat perubahan yang diingankan tersebut. Hambatan perubahan tersebut pada dasarnya dapat dicermati salah satunya dalam hal kedaulatan. Dalam Islam kedaulatan itu hanya milik Allah swt yaitu syariat Islam. Sedangkan pada sistem demokrasi kedaulatan ada di tangan rakyat. Hal ini mengakibatkan syarat akan kepentingan suatu kelompok atau golongan. Faktanya tampak jelas di negri ini salah satunya UU Minerba dan Omnibus law.

Selain itu dalam sistem demokrasi tidak adanya tolak ukur untuk menentukan kebenaran apalagi halal – haram. Dalam hal ini kebenaran dapat berubah menjadi salah ketika hal itu disepakati bersama. Begitupun sebaliknya. Salah satu contohnya yaitu riba, dalam Islam jelas riba itu haram, bahkan pelakunya pun diperangin oleh Allah swt dan rasul-Nya (QS Al Baqarah 2:278 - 279). Namun dalam sistem demokrasi hal itu diperbolehkan karena dapat memberikan keuntungan bagi negara.

Dari sisi sejarah sistem demokrasi melahirkan peradaban yang rusak, menciptakan kesenjangan sosial, hingga perpecahan antar umat. Berbeda dengan Islam, terbukti mampu menciptakan peradaban yang mulia, mulai dari toleransi antar umat beragama hingga kaum perempuan. Peradaban ini pernah terjadi selama kurang lebih 1400 tahun lamanya, hingga akhirnya runtuh dikarenakan terpengaruhnya kaum Muslim dari pemikiran-pemikiran barat dan lemahnya tsaqafah Islam.

Dalam ranah pendidikan, sistem Islam memberikan metode yang berbeda dengan sistem demokrasi yaitu membentuk kepribadian yang Islami sehingga menciptakan generasi yang tidak hanya berorientasi dunia namun juga akhirat. Hal tersebut di berikan oleh negara secara gratis dan dapat diperoleh oleh seluruh lapisan masyarakat. Sedangkan dalam sistem demokrasi, pendidikan merupakan alat untuk menciptakan suatu materi saja. Artinya pendidikan berfungsi melahirkan generasi yang hanya memikirkan keuntungan materi saja tidak peduli itu dengan cara halal ataupun haram. Salah satu contohnya yaitu sering terjadi kasus korupsi oleh seorang pejabat yang memiliki pendidikan yang tinggi.

Jika dilihat dalam hal pendapatan negara, sistem demokrasi memperoleh pendapatan yang paling besar salah satunya melalui pemungutan pajak. Pemungutan pajak ini berlaku untuk semua lapisan masyarakat. Hal ini tentu memberatkan untuk sebagian kalangan masyarakat yang tidak mampu. Misalnya pada pajak kendaraan bermotor. Meskipun sudah menjadi hak pribadi namun tetap harus membayar sejumlah pajak, bila tidak membayarnya akan terkena sanksi salah satunya pelarangan kendaraan beroperasi. Berbeda dengan sistem Islam, pendapatan diperoleh salah satunya dari sektor real yaitu pengelolaan sumber daya alam yang dikelola oleh negara dan hasilnya untuk semua lapisan masyarakat. Kalaupun ada pungutan pajak, itu dikarenakan kondisi negara sedang tidak stabil. Pungutan pajak ini pun hanya berlaku pada kalangan orang kaya saja.

Secara ekonomi, sistem demokrasi menitikberatkan pada mekanisme pasar dalam memperoleh kekayaan. Sehingga memaksaakan individu masyarakat untuk saling bersaing didalamnya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Tentu ini tidak adil jika beberapa individu tidak memiliki modal dan akhirnya timbul ketimpangan-ketimpangan di lapisan masyarakat. Sedangkan dalam sistem Islam, distribusi kekayaan terwujud secara adil dengan cara menjamin setiap individu dalam kebutuhan dasarnya. Sehingga masyarakat dapat hidup tenang dan fokus ke aktivitas lainnya.

Itulah beberapa perbandingan antara sistem demokrasi dan sitam Islam yang seharusnya menjadi bahan pertimbangan dalam memilih pemimpin. Apakah pemimpin tersebut melanjutkan kepemimpinannya dengan sistem demokrasi atau mungkin melakukan perubahan secara mendasar dengan menggantinya dengan sistem Islam? Padahal negri ini merupakan negri dengan jumlah pemeluk agama Islam terbesar di dunia. Jangan sampai mengaku umat Islam namun menolak sistem Islam karena dianggap ketinggalan zaman dan tidak sesuai dengan founding father di negeri ini.