Tampilkan postingan dengan label opini Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini Tokoh. Tampilkan semua postingan

Hikmah Dan Keutamaan Berjabat Tangan

Hikmah  Dan  Keutamaan Berjabat Tangan

DR Nasrul Syarif M.Si.

Penulis Buku Gizi Spiritual. Ramadhan Maghfirah 1445 H

Tsaqofatuna.id - Sobat. Berjabat tangan adalah praktek yang umum dalam banyak budaya, termasuk dalam Islam. Dalam Islam, terdapat beberapa hikmah atau kebijaksanaan di balik praktik berjabat tangan:

1. Menjalin Hubungan Sosial: Berjabat tangan adalah cara yang umum digunakan untuk menyambut dan berinteraksi dengan orang lain. Ini membantu dalam menjalin hubungan sosial yang baik antara individu, keluarga, dan komunitas.

2. Menunjukkan Keramahan dan Kesopanan: Berjabat tangan adalah tanda keramahan dan kesopanan. Saat seseorang memberikan jabatan tangan kepada orang lain, itu menunjukkan bahwa dia menyambutnya dengan hati terbuka dan menghargai kehadirannya.

3. Menunjukkan Persaudaraan dan Solidaritas: Jabatan tangan juga dapat menjadi simbol persaudaraan dan solidaritas antara sesama Muslim. Ini adalah tindakan yang menunjukkan bahwa individu tersebut adalah bagian dari komunitas Islam yang satu, saling mendukung dan membantu satu sama lain.

4. Meningkatkan Rasa Kepercayaan dan Keharmonisan: Dalam Islam, jabatan tangan juga dianggap sebagai tanda kepercayaan dan keharmonisan antara individu. Dengan memberikan jabatan tangan, seseorang menunjukkan bahwa dia siap untuk berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain dengan saling menghormati.

5. Menghindari Pertentangan dan Ketegangan: Dalam situasi di mana berjabat tangan adalah norma sosial, menolak untuk berjabat tangan dapat menimbulkan ketegangan dan konflik yang tidak perlu. Oleh karena itu, dengan berjabat tangan, individu dapat menghindari potensi konflik atau ketidaknyamanan sosial.

Meskipun berjabat tangan adalah praktik yang umum dan dianjurkan dalam banyak situasi dalam Islam, ada situasi di mana hal itu mungkin tidak sesuai, seperti ketika berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram atau jika seseorang memiliki kondisi kesehatan tertentu yang membuatnya tidak nyaman melakukan kontak fisik. Dalam hal-hal seperti itu, Islam mengajarkan untuk berlaku sopan dan menghormati keadaan individu lainnya.

Hadits Rasulullah ﷺ: " Tidaklah dua muslim lantas berjabat tangan, melainkan akan diampuni dosa di antara keduanya sebelum berpisah." ( HR Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi )

Hadits yang disebutkan adalah salah satu hadits yang menegaskan keutamaan berjabat tangan dalam Islam. Hadits tersebut ditemukan dalam koleksi hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi. Berikut adalah terjemahan lengkap dari hadits tersebut:

"Tidaklah dua Muslim bertemu dan saling berjabat tangan, melainkan dosa-dosa keduanya di antara keduanya akan diampuni sebelum mereka berpisah."

Hadits ini menegaskan bahwa setiap kali dua Muslim bertemu dan berjabat tangan, dosa-dosa mereka yang terjadi di antara keduanya akan diampuni oleh Allah SWT. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan berjabat tangan dalam Islam tidak hanya merupakan tindakan sosial biasa, tetapi juga memiliki implikasi spiritual yang besar.

Dengan demikian, praktik berjabat tangan bukan hanya sebagai bentuk keramahan dan kesopanan, tetapi juga sebagai cara untuk mendapatkan pengampunan dosa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ini adalah salah satu contoh bagaimana Islam mengajarkan umatnya untuk membangun hubungan sosial yang baik dan menghargai interaksi antar sesama Muslim dengan memberikan keutamaan spiritual kepada tindakan-tindakan tersebut.

Jabatan tangan amalan para sahabat nabi, amalan kecil tetapi berpahala begitu hebatnya. Sampai-sampai bisa mengugurkan dosa-dosa kita

Benar sekali, praktik berjabat tangan adalah salah satu amalan kecil yang memiliki keutamaan besar dalam Islam. Para Sahabat Nabi Muhammad SAW adalah contoh yang sangat baik dalam menjalankan praktik ini. Mereka tidak hanya mengikuti sunnah Nabi dalam segala hal, tetapi juga mempraktikkan keramahan, kesopanan, dan solidaritas antara sesama Muslim.

Praktik berjabat tangan tidak hanya merupakan tindakan sosial biasa, tetapi juga memiliki nilai-nilai spiritual yang mendalam dalam Islam. Dengan memberikan jabatan tangan kepada orang lain, seseorang menunjukkan keramahan, kesopanan, dan kesediaan untuk berkomunikasi dan bekerja sama. Ini adalah bentuk kebaikan yang sederhana namun penting dalam memperkuat hubungan sosial dan persaudaraan di antara umat Muslim.

Selain itu, hadits yang disebutkan sebelumnya juga menegaskan bahwa berjabat tangan antara dua Muslim akan menghapus dosa-dosa di antara keduanya sebelum mereka berpisah. Hal ini menunjukkan betapa besar nilainya dalam Islam, bahwa tindakan kecil seperti berjabat tangan dapat memiliki implikasi besar dalam mendapatkan pengampunan dosa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dengan demikian, kita dapat belajar dari praktik dan teladan para Sahabat Nabi dalam menjalankan amalan-amalan kecil yang memiliki keutamaan besar dalam Islam. Praktik berjabat tangan bukan hanya sebagai tindakan sopan santun, tetapi juga sebagai cara untuk meningkatkan hubungan sosial, memperoleh keberkahan, dan mendapatkan pahala di sisi Allah SWT.

Keutamaan berjabat tangan dalam Sunnah Nabi Muhammad SAW

Dalam Sunnah Nabi Muhammad SAW, terdapat beberapa hadits yang menegaskan keutamaan dan nilai penting dari praktik berjabat tangan. Berikut adalah beberapa hadits yang mencatat keutamaan berjabat tangan dalam Sunnah Nabi Muhammad SAW:

1. Keutamaan Berjabat Tangan dalam Pertemuan: Rasulullah Muhammad SAW bersabda: "Janganlah dua orang Muslim bertemu, kemudian berjabat tangan, kecuali dosa-dosa keduanya diampuni sebelum keduanya berpisah." (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

2. Menunjukkan Kasih Sayang: Rasulullah SAW juga bersabda: "Seseorang di antara kamu tidak dapat mencapai tingkat iman yang sempurna hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." Lalu ditanya, "Bagaimana jika seseorang itu tidak bisa?" Rasulullah SAW menjawab, "Mengajarkan kepada saudaranya ucapan salam ketika bertemu dengannya." (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Menjalin Persaudaraan: Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda: "Wahai sekalian manusia! Sebarkanlah salam di antara kalian, berikanlah makanan kepada orang-orang yang tidak kalian kenal, dan berjabat tanganlah sebagai tanda persaudaraan. Dengan melakukan hal itu, kalian akan masuk surga dengan selamat." (HR. At-Tirmidzi).

Dari hadits-hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam Sunnah Nabi Muhammad SAW, berjabat tangan bukan hanya sekadar tindakan sosial biasa, tetapi juga memiliki nilai spiritual yang besar. Praktik ini membawa berkah, menghapus dosa, dan memperkuat ikatan persaudaraan di antara umat Islam.

Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya saling mencintai, menyebarkan salam, dan memberikan makanan kepada sesama. Berjabat tangan adalah salah satu cara untuk mengekspresikan cinta, menyambut dengan baik, dan menjalin persaudaraan di antara umat Islam.

Dengan demikian, berjabat tangan dalam Islam bukan hanya tindakan fisik, tetapi juga merupakan simbol dari kesopanan, kasih sayang, dan persaudaraan yang harus dijunjung tinggi dalam kehidupan sehari-hari umat Islam.

Membelanjakan Harta di Jalan Allah

Membelanjakan Harta di Jalan Allah

DR Nasrul Syarif M.Si.

Penulis Buku Gizi Spiritual. Ramadhan Maghfirah 1445H

Allah SWT berfirman :

وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلۡقُواْ بِأَيۡدِيكُمۡ إِلَى ٱلتَّهۡلُكَةِ وَأَحۡسِنُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” ( QS. Al-Baqarah (2) : 195 )

Tsaqofatuna.id - Sobat. Orang-orang mukmin diperintahkan membelanjakan harta kekayaannya untuk berjihad fi sabilillah dan dilarang menjatuhkan dirinya ke dalam jurang kebinasaan karena kebakhilannya. Jika suatu kaum menghadapi peperangan sedangkan mereka kikir, tidak mau membiayai peperangan itu, maka perbuatannya itu berarti membinasakan diri mereka.

Menghadapi jihad dengan tidak ada persiapan serta persediaan yang lengkap dan berjihad bersama-sama dengan orang-orang yang lemah iman dan kemauannya, niscaya akan membawa kepada kebinasaan. Dalam hal infaq fi sabilillah orang harus mempunyai niat yang baik, agar dengan demikian ia akan selalu memperoleh pertolongan Allah.

Sobat. Harta yang kita miliki adalah titipan Allah SWT, Maka nanti di Yaumil Akhir akan dihisab dengan dua pertanyaan : Dari mana asal memperoleh harta? ke mana harta itu dibelanjakan? Benar, dalam ajaran Islam, harta yang dimiliki dianggap sebagai titipan dari Allah SWT, dan manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas bagaimana harta tersebut diperoleh dan digunakan pada hari Kiamat. Dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW, disebutkan bahwa seseorang akan dimintai pertanggungjawaban atas harta yang diperolehnya dari sumber yang halal dan bagaimana harta tersebut digunakan selama hidupnya.

Dalam konteks ini, pertanyaan "Dari mana asal memperoleh harta?" menyoroti apakah sumber pendapatan seseorang berasal dari yang halal atau tidak. Harta yang diperoleh dari cara-cara yang tidak halal, seperti penipuan, korupsi, atau kecurangan, dianggap tidak sah menurut ajaran Islam.

Sedangkan pertanyaan "Ke mana harta itu dibelanjakan?" menyoroti bagaimana harta tersebut digunakan selama hidupnya. Islam mengajarkan untuk menggunakan harta dengan cara yang baik dan bermanfaat, seperti untuk keperluan pribadi dan keluarga, serta untuk membantu orang lain yang membutuhkan, seperti memberikan sedekah dan amal.

Penting untuk diingat bahwa dalam Islam, memperoleh harta secara halal dan menggunakan harta tersebut dengan cara yang baik merupakan bagian penting dari ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT. Pada hari Kiamat, manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas semua amal perbuatannya, termasuk bagaimana mereka memperoleh dan menggunakan harta mereka.

Agar harta kita menjadi berkah, ada beberapa hal yang dapat dilakukan menurut ajaran Islam:

1. Memperoleh harta dari sumber yang halal: Pastikan bahwa sumber pendapatan kita bersumber dari cara yang halal dan diperoleh dengan cara yang baik dan sesuai dengan prinsip-prinsip agama.

2. Menunaikan zakat: Zakat adalah kewajiban bagi umat Islam yang mampu, yang merupakan pengeluaran sebagian dari harta yang dimiliki untuk diberikan kepada yang berhak menerima, seperti fakir miskin, asnaf, dan lainnya. Menunaikan zakat secara rutin membantu membersihkan harta dari unsur-unsur yang tidak baik dan meningkatkan berkah dalam harta.

3. Memberikan sedekah: Selain zakat, memberikan sedekah juga merupakan cara untuk membersihkan harta dan mendatangkan berkah. Sedekah tidak hanya berupa harta, tetapi juga bisa berupa waktu, tenaga, atau keahlian.

4. Menggunakan harta dengan bijak: Mengelola harta dengan bijak, termasuk merencanakan pengeluaran, berinvestasi secara cerdas, dan menghindari pemborosan, akan membantu mempertahankan berkah dalam harta.

5. Berbuat baik kepada sesama: Menggunakan harta untuk membantu sesama manusia, seperti memberikan bantuan kepada yang membutuhkan, membangun infrastruktur sosial, atau menyumbang untuk tujuan kemanusiaan, juga dapat membawa berkah dalam harta.

6. Berdoa kepada Allah SWT: Berdoa kepada Allah SWT untuk memberkahi harta yang dimiliki dan meminta petunjuk-Nya dalam mengelola harta juga penting. Kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam pengelolaan harta, adalah kunci untuk mendapatkan berkah.

Dengan mengikuti prinsip-prinsip ini, diharapkan harta kita akan menjadi berkah dan mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat secara luas.

Kehalalan harta kita adalah inti keberkahan hidup

Benar sekali. Kehalalan harta adalah inti dari keberkahan hidup menurut ajaran Islam. Harta yang diperoleh dari sumber yang halal, yaitu dengan cara-cara yang sesuai dengan prinsip-prinsip agama dan hukum yang berlaku, merupakan fondasi penting untuk mendapatkan berkah dalam hidup.

Kehalalan harta mencakup berbagai aspek, termasuk sumber pendapatan, cara mendapatkan harta, dan penggunaan harta tersebut. Dalam Islam, harta yang diperoleh dari cara yang halal dianggap sebagai berkah karena selaras dengan kehendak Allah SWT dan mengikuti aturan yang ditetapkan dalam agama.

Seseorang yang memperoleh harta dari sumber yang halal akan merasakan berkah dalam kehidupannya, baik secara materiil maupun spiritual. Kehalalan harta memastikan bahwa tidak ada unsur dosa atau kesalahan dalam proses memperolehnya, sehingga harta tersebut menjadi murni dan bermanfaat bagi kehidupan individu dan masyarakat.

Dengan menjadikan kehalalan harta sebagai fokus utama dalam mencari nafkah dan mengelola kekayaan, seseorang dapat mengharapkan berkah yang melimpah dari Allah SWT dalam segala aspek kehidupannya.

Membelanjakan harta di jalan kebaikan membuat hidup kita berkah dan bikin hidup lebih hidup.

Tepat sekali. Membelanjakan harta di jalan kebaikan tidak hanya memberikan manfaat bagi orang lain, tetapi juga membawa berkah dan kebahagiaan bagi diri sendiri. Islam mengajarkan pentingnya berbuat baik kepada sesama dan mempergunakan harta dengan cara yang baik dan bermanfaat.

Membelanjakan harta di jalan kebaikan dapat berupa berbagai bentuk, seperti memberikan sedekah kepada yang membutuhkan, menyumbang untuk tujuan kemanusiaan, membangun infrastruktur sosial, membantu pendidikan anak-anak yang kurang mampu, atau mendukung usaha-usaha yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Tindakan ini tidak hanya membawa manfaat materiil bagi penerima bantuan, tetapi juga memberikan kepuasan batin bagi pemberi bantuan. Rasulullah SAW telah mengajarkan bahwa memberikan sedekah tidak akan mengurangi harta seseorang, bahkan dapat membawa keberkahan dan pertumbuhan dalam harta tersebut.

Selain itu, dengan membantu orang lain dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial yang bermanfaat, kita juga dapat memperluas jaringan sosial, memperoleh pengalaman baru, dan mendapatkan rasa kepuasan yang mendalam karena dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Dengan demikian, membiasakan diri untuk membantu sesama dan menggunakan harta untuk tujuan yang baik dan bermanfaat akan membawa berkah bagi kehidupan kita sendiri serta membuat hidup menjadi lebih berarti dan penuh makna.

Ingatlah selalu dalam kebaikan terkandung nikmat keberkahan dari Allah SWT.

Betul sekali. Dalam setiap tindakan kebaikan yang kita lakukan, terkandung nikmat keberkahan dari Allah SWT. Dalam ajaran Islam, Allah SWT menjanjikan berkah dan balasan yang melimpah bagi setiap amal baik yang dilakukan hamba-Nya dengan tulus dan ikhlas.

Menanamkan kesadaran akan nikmat keberkahan dalam setiap tindakan kebaikan adalah penting dalam memperkokoh iman dan menjaga hubungan kita dengan Allah SWT. Ketika kita melakukan kebaikan dengan niat yang tulus dan ikhlas, Allah SWT akan memberikan berkah dalam berbagai bentuk, baik dalam kehidupan dunia maupun di akhirat.

Nikmat keberkahan dari Allah SWT juga bisa dirasakan melalui perasaan damai dan kebahagiaan yang kita rasakan saat kita berbuat baik kepada sesama. Hal ini membuktikan bahwa Allah SWT senantiasa hadir dalam setiap tindakan kebaikan yang kita lakukan dan memberikan dukungan serta perlindungan-Nya.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu mengingat dan mensyukuri nikmat keberkahan dari Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan kita, terutama dalam melakukan kebaikan kepada sesama. Dengan demikian, kita dapat terus termotivasi untuk melakukan amal kebaikan yang lebih banyak lagi dan menjadikan hidup kita lebih bermakna dan berkah.

Manejemen pengelolaan Harta dalam Islam

Manajemen pengelolaan harta dalam Islam sangat ditekankan untuk memastikan bahwa harta yang dimiliki dikelola dengan bijak dan sesuai dengan prinsip-prinsip agama. Berikut adalah beberapa prinsip dasar dalam manajemen pengelolaan harta dalam Islam:

1. Kehalalan: Prinsip utama dalam manajemen pengelolaan harta dalam Islam adalah memastikan bahwa harta tersebut diperoleh dari sumber yang halal dan sesuai dengan hukum syariah. Hal ini mencakup memastikan bahwa pendapatan berasal dari usaha yang halal, investasi yang tidak melanggar prinsip syariah, dan menghindari segala bentuk penipuan, riba, atau sumber pendapatan yang tidak sah.

2. Zakat: Zakat merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu, yaitu memberikan sebagian dari harta yang dimiliki kepada yang berhak menerima, seperti fakir miskin, asnaf, dan lainnya. Zakat bukan hanya merupakan kewajiban, tetapi juga merupakan bagian dari manajemen pengelolaan harta yang menghilangkan sifat kikir dan membantu membersihkan harta dari unsur-unsur yang tidak baik.

3. Bersikap hemat dan tidak boros: Islam mengajarkan untuk bersikap hemat dan tidak boros dalam menggunakan harta. Ini termasuk merencanakan pengeluaran dengan bijak, menghindari pemborosan pada hal-hal yang tidak penting, dan memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan yang benar-benar diperlukan.

4. Berinvestasi dengan bijak: Islam mendorong umatnya untuk berinvestasi dengan bijak untuk meningkatkan nilai harta dan mendapatkan penghasilan tambahan. Namun, investasi harus dilakukan sesuai dengan prinsip syariah, menghindari investasi yang melanggar hukum agama, seperti investasi dalam perjudian, alkohol, atau industri yang merugikan lingkungan.

5. Memberikan sedekah dan infaq: Selain zakat, memberikan sedekah dan infaq juga merupakan bagian penting dari manajemen pengelolaan harta dalam Islam. Sedekah dan infaq membantu membersihkan harta dari sifat keserakahan, meningkatkan rasa empati terhadap sesama, dan mendatangkan berkah dalam kehidupan.

6. Berdoa dan berserah diri kepada Allah SWT: Dalam manajemen pengelolaan harta, penting untuk selalu berdoa dan berserah diri kepada Allah SWT. Meminta petunjuk-Nya dalam setiap keputusan finansial, bersyukur atas nikmat yang diberikan, dan memohon perlindungan-Nya dari sifat serakah dan boros merupakan bagian integral dari manajemen harta dalam Islam.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini dalam manajemen pengelolaan harta, seorang Muslim diharapkan dapat mengelola harta dengan bijak, mendapatkan berkah dalam kehidupan dunia dan akhirat, serta memperoleh kebahagiaan yang sejati dalam hidup.

Orang-orang Yang Dirindukan Surga

Orang-orang Yang Dirindukan Surga

DR Nasrul Syarif M.Si.

(Penulis Buku Gizi Spiritual dan Buku BIGWIN. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo. Wakil Ketua Komnas Pendidikan Jawa Timur)

Tsaqofatuna.id - Sobat. Umat Muhammad SAW banyak dikasih keistemewaan dan Keutamaan yang belum pernah diberikan kepada umat sebelumnya. Salah satu diantaranya diberi Bulan Ramadhan yang bulan penuh berkah dan Ampunan dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “ Barangsiapa merasa gembira dengan masuknya bulan Ramadhan , maka Allah mengharamkan tubuhnya terhadap neraka.”

Dari Ibnu Abbas ra bahwa dia mengatakan : “ Pernah saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “ Sekiranya umatku tahu apa yang ada pada bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar setahun penuh menjadi Ramadhan. Karena pada bulan itu kebaikan dihimpun, ketaatan diterima, doa-doa dikabulkan, dosa-dosa diampuni, sedangkan surga merindukan mereka.”

OLeh karena itu Rasulullah SAW bersabda, “ Surga itu rindu kepada empat orang : Orang yang membaca A-Qur’an. Orang yang menjaga lidahnya. Orang yang memberi makan kepada mereka yang kelaparan. Dan orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan.

Allah SWT berfirman :

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتۡلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ يَرۡجُونَ تِجَٰرَةٗ لَّن تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمۡ أُجُورَهُمۡ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضۡلِهِۦٓۚ إِنَّهُۥ غَفُورٞ شَكُورٞ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” ( QS. Fathir (35) : 29-30 )

Sobat. Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa orang-orang yang selalu membaca Al-Qur'an, meyakini berita, mempelajari kata dan maknanya lalu diamalkan, mengikuti perintah, menjauhi larangan, mengerjakan salat pada waktunya sesuai dengan cara yang telah ditetapkan dan dengan penuh ikhlas dan khusyuk, menafkahkan harta bendanya tanpa berlebih-lebihan dengan ikhlas tanpa ria, baik secara diam-diam atau terang-terangan, mereka adalah orang yang mengamalkan ilmunya dan berbuat baik dengan Tuhan mereka. Mereka itu ibarat pedagang yang tidak merugi, tetapi memperoleh pahala yang berlipat ganda sebagai karunia Allah, berdasarkan amal baktinya. Firman Allah:

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Allah akan menyempurnakan pahala bagi mereka dan menambah sebagian dari karunia-Nya. (an-Nisa'/4: 173)

Selain dari itu, mereka juga akan memperoleh ampunan atas kesalahan dan kejahatan yang telah dilakukan, karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri hamba-hamba-Nya, memberikan pahala yang sempurna terhadap amal-amal mereka, memaafkan kesalahannya dan menambah nikmat-Nya. Sejalan dengan ini firman Allah:

Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri. (asy-Syura/42: 23)

Allah SWT berfirman :

وَٱلَّذِيٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ هُوَ ٱلۡحَقُّ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِۗ إِنَّ ٱللَّهَ بِعِبَادِهِۦ لَخَبِيرُۢ بَصِيرٞ

“Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Quran) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” ( QS. Fathir (35) : 31 )

Sobat. Sesungguhnya Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah Kitabullah yang benar-benar diturunkan dari Allah. Oleh karena itu, Allah mewajibkan kepada Nabi dan kepada segenap umatnya untuk mengamalkan ajarannya dan mengikuti pedoman-pedoman hidup yang terdapat di dalamnya. Bila seorang muslim telah mematuhi secara sempurna ajaran Al-Qur'an itu, maka ia tidak perlu lagi mengamalkan kitab-kitab suci sebelumnya, sekalipun diwajibkan untuk mengimaninya.

Sebab apa yang pernah diterangkan dalam kitab-kitab sebelumnya, telah dibenarkan oleh Al-Qur'an. Dengan kata lain, beriman dengan kitab-kitab suci yang pernah diturunkan kepada para rasul sebelum Nabi Muhammad bukan berarti mengamalkan ajarannya, tetapi cukup mengimani kebenarannya, sebab intisari dari apa yang tercantum dalam kitab-kitab itu telah tertera pula dalam Al-Qur'an. Allah Maha Mengetahui perihal hamba-Nya. Allah Mahateliti akan aturan-aturan hidup yang perlu bagi mereka. Atas dasar itulah Dia menetapkan aturan dan hukum-hukum yang sesuai dengan kehidupan mereka, di mana dan kapan mereka berada. Guna kesejahteraan manusia seutuhnya, Allah mengutus para rasul dengan tugas menyampaikan syariat-Nya, di mana Nabi Muhammad adalah rasul terakhir yang diutus untuk sekalian manusia sampai hari Kiamat. Risalah dan syariat yang dibawanya kekal dan abadi sampai tibanya hari Kiamat.

Firman Allah:

Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya. (al-An'am/6: 124)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa maksud pengetahuan Allah yang Mahaluas mengenai perihal hamba-Nya itu ialah Dia mengangkat derajat para nabi dan rasul melebihi manusia keseluruhannya. Bahkan di antara mereka (para nabi) itu sendiri berbeda-beda tingkat ketinggiannya, dan kedudukan Nabi Muhammad melebihi semua mereka.

Sobat. Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata Manusia itu terbagi menjadi tiga golongan dalam Ibadah atau penyembahan dan tiap-tiap golongan mempunyai ciri khas tersendiri. Adapun ketiga golongan tersebut adalah :

1. Golongan manusia yang menyembah Allah karena takut terhadap azab-Nya. Ciri-ciri khasnya ; Merendahkan dirinya dihadapan Allah, Menganggap kebaikannya sedikit. Menganggap keburukannya banyak.

2. Golongan manusia yang menyembah Allah karena berharap rahmat-Nya. Ciri-cirinya ; Menjadi teladan bagi orang lain dalam segala kondisi. Menjadi paling dermawan dengan harta dunianya karena dia zuhud dalam urusan duniawi. Selalu berbaik sangka kepada Allah terhadap segala yag diciptakan-Nya.

3. Golongan manusia yang menyembah Allah karena cinta kepada-Nya. Adapun ciri-cirinya sebagai berikut ; Akan memberikan apa yang dicintainya dan tidak menghiraukan apa pun jika telah mendapatkan ridha Allah SWT.Akan mengerjakan amal sholeh sekalipun kemauannya menolak dan tidak memberi ruang untuk mengikuti hawa nafsu, yang penting Allah meridhainya. Selalu menaati perintah Tuhannya dan menjauhi larangan-Nya.

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَأَجۡرٞ كَبِيرٞ

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” ( QS. Al-Mulk (67) : 12 )

Sobat. Ayat ini menerangkan tanda-tanda orang bertakwa yang tunduk dan patuh kepada Allah, dan yakin bahwa Allah mengetahui segala yang mereka lakukan baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Tanda-tanda itu ialah:

1. Senantiasa takut kepada azab Allah walaupun azab itu merupakan suatu yang gaib, tidak tampak dan belum tentu kapan datangnya.

2. Merasa takut akan kedatangan hari Kiamat, karena mengingat malapetaka yang akan terjadi pada diri mereka seandainya mengingkari Allah, seperti peristiwa yang akan terjadi pada hari perhitungan, hari pembalasan, dan azab neraka yang tiada terkirakan.

3. Yakin dan percaya bahwa Allah selalu mengawasi, memperhatikan, dan mengetahui di mana dan dalam keadaan bagaimana mereka setiap saat.

Dalam hadis Nabi Muhammad disebutkan:

Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah saw bersabda, "Tak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah. (Riwayat at-Tirmidhi, an-Nasa'i, Ahmad, al-hakim, dan lainnya)

Orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh, tidak ada kekhawatiran terhadap diri mereka dan mereka tidak bersedih hati terhadap segala sesuatu yang luput dari mereka, sebagaimana firman Allah:

Sungguh, orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (al-Baqarah/2: 277)

Orang-orang yang beriman dan taat kepada Allah selalu merasa mendapat pengawasan dari-Nya. Mereka yakin bahwa Dia melihat dan memperhatikan mereka, sebagaimana yang diucapkan Nabi Muhammad dalam konteks ihsan: Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu. (Riwayat al-Bukhari, Muslim, dan Abu Hurairah)

Allah menjanjikan bahwa orang-orang mukmin yang bersifat demikian akan diampuni dosa-dosanya dan akan diberi pahala yang besar di akhirat kelak.

Tips Bahagia Menurut Imam Syafií

Tips Bahagia Menurut Imam Syafií

Oleh: DR. Nasrul Syarif M.Si.

Penulis Buku Gizi Spiritual dan Buku The Power of Spirituality - Meraih Sukses tanpa batas

Tsaqofatuna.id - Sobat. Imam syafií rahimahullah memberi wasiat tentang lima hal yang dapat mengantarkan seseorang pada kebahagiaan dan kebaikan dunia akherat. Kata beliau, “ Ingin bahagia? Miliki kekayaan jiwa, jangan menyakiti, usaha yang halal, pelihara taqwa, dan yakin dengan Allah dalam setiap kondisi.

Sobat. Artikel ini kita akan membahas lima hal yang bisa mengantarkan kepada kebahagiaan yang hakiki :

1. Memiliki kekayaan jiwa. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Kekayaan itu bukan soal keberlimpahan harta benda dunia, melainkan kekayaan yang sejati adalah kekayaan jiwa.”

Sobat. Hadits ini menunjukkan bahwa kekayaan sejati bukanlah terletak pada jumlah harta yang dimiliki seseorang, melainkan pada kondisi hati dan jiwa yang merasa cukup dengan apa yang Allah SWT berikan. Orang yang kaya jiwa adalah orang yang mensyukuri nikmat Allah SWT, tidak tamak, tidak iri, tidak bakhil, tidak sombong, dan tidak takut kehilangan harta. Orang yang kaya jiwa juga tidak bergantung pada manusia atau harta, melainkan hanya pada Allah SWT. Orang yang kaya jiwa selalu merasa puas dengan apa yang ada, dan tidak mengeluh dengan apa yang tiada.

Sobat. Kekayaan jiwa adalah kekayaan yang menentramkan hati dan mendamaikan pikiran. Orang yang kaya jiwa tidak mudah terpengaruh oleh godaan dunia atau tipu daya setan. Orang yang kaya jiwa juga tidak mudah tergoda oleh rayuan syahwat atau bisikan nafsu. Orang yang kaya jiwa selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas ibadah dan akhlaknya kepada Allah SWT dan sesama makhluk.

2. Menahan diri dari menyakiti. Sobat. Siapa yang menggali lubang, dialah yang akan jatuh ke dalamnya. Begitulah kira-kira gambaran kehidupan dunia. Apabila seseorang berani dan rela menyakiti orang lain, ia tidak akan hidup tenang. Sebab, orang itu akan berusaha membalasnya, begitulah selamanya. Apabila kita mampu menahan diri dari menyakiti orang lain, bahkan dari orang yang menyakiti kita, maka selamanya kita akan merasa tenang dan tidak terlibat dalam permusuhan yang hanya akan membawa sengsara.

3. Usaha yang halal. Harta yang halal adalah kunci meraih keberkahan hidup, sebaiknya usaha haram akan membawa malapetaka di dunia dan mendapat siksa di akherat. Usaha yang haram itu berefek buruk kepada diri sendiri dan orang lain.

Allah SWT berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِلَّهِ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” ( QS. Al-Baqarah (2) : 172 )

Sobat. Di dalam ayat ini ditegaskan agar seorang mukmin makan makanan yang baik yang diberikan Allah, dan rezeki yang diberikan-Nya itu haruslah disyukuri. Dalam ayat 168 perintah makan makanan yang baik-baik ditujukan kepada manusia umumnya. Karenanya, perintah itu diiringi dengan larangan mengikuti ajaran setan. Sedangkan dalam ayat ini perintah ditujukan kepada orang mukmin saja agar mereka makan rezeki Allah yang baik-baik. Sebab itu, perintah ini diiringi dengan perintah mensyukurinya.

4. Pakaian Taqwa. Taqwa artinya menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Taqwa dapat memberikan ketenangan yang luar biasa, karena hati manusia sebenarnya meminta kesucian bukan kegelapan maksiat. Maksiat yang kita lakukan seolah berbekas hitam pada hati, sehingga menimbulkan perasaan gelisah tak menentu. Terkadang pelaku maksiat tidak menyadari bahwa kegelisahannya akibat dari maksiat yang dilakukannya.

5. Yakin kepada Allah dalam segala kondisi. Orang yang yakin pada pertolongan Allah dalam kesukaran, ia akan mendapat kemudahan. Orang yang berharap hanya kepada manusia biasanya akan kecewa.

وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا

“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” ( QS. Ath-Thalaq ( 65) : 3 )

Sobat. Sesungguhnya janji Allah itu benar. Sebagaimana firman-Nya :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” ( QS. Fathir (35) : 5 )

Sobat. Pada ayat ini, Allah menerangkan kebenaran janji-Nya, yaitu terjadinya hari Kebangkitan dan hari Pembalasan. Apabila seseorang taat kepada perintah-Nya akan diberi pahala, dan orang yang mendurhakai-Nya akan disiksa. Janji Allah pada waktunya akan menjadi kenyataan. Dia itu tidak akan pernah menyalahi janji-Nya, sebagaimana firman Allah:

Sungguh, Allah tidak menyalahi janji. (ali 'Imran/3: 9)

Oleh karena itu, tidaklah pada tempatnya bila seseorang teperdaya dengan kehidupan dunia yang mewah, sehingga ia "lupa daratan", bahkan melupakan Tuhan. Semua waktunya dipergunakan untuk menumpuk harta tanpa mengingat Allah sedikit pun. Hal demikian itu dilarang oleh Allah sebagaimana firman-Nya:

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta benda dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. (al-Munafiqun/63: 9)

Begitu pula janganlah seseorang dapat tertipu dan teperdaya dengan bujukan dan godaan setan, dengan mudah menuruti bisikan dan ajakannya karena setan tidak hanya mengajak kepada hal-hal yang keji dan mungkar, tetapi kadangkala ia menyuruh orang untuk berbuat baik dengan tujuan ria. Allah berfirman :

۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۚ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” ( QS. An-Nur (24) : 21 )

Sobat. Pada ayat ini Allah memperingatkan kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, agar mereka itu jangan menuruti ajakan setan, mengikuti jejak dan langkahnya, seperti suka dan senang menyebarluaskan aib dan perbuatan keji di antara orang-orang yang beriman.

Barangsiapa yang senang mengikuti langkah-langkah setan, pasti ia akan terjerumus ke lembah kehinaan, berbuat yang keji dan mungkar, karena setan itu memang suka berbuat yang demikian. Oleh karena itu jangan sekali-kali mau mencoba-coba mengikuti jejak dan langkahnya.

Sekiranya Allah tidak memberikan karunia dan rahmat kepada hamba-Nya dan yang selalu membukakan kesempatan sebesar-besarnya untuk bertobat dari maksiat yang telah diperbuat mereka, tentunya mereka tidak akan bersih dari dosa-dosa mereka yang mengakibatkan kekecewaan dan kesengsaraan, bahkan akan disegerakan azab yang menyiksa mereka itu di dunia ini, sebagaimana firman Allah:

Dan Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya Dia tidak akan ada yang ditinggalkan-Nya (di bumi) dari makhluk yang melata sekalipun, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang sudah ditentukan. (an- Nahl/16: 61)

Allah Yang mempunyai kekuasaan yang tertinggi, bagaimana pun juga, Dia tetap akan membersihkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dari hamba-Nya, dengan menerima tobat mereka seperti halnya Hassan, Mistah bin Utsatsah dan lainnya. Mereka itu telah dibersihkan dari penyakit nifak, sekalipun mereka itu telah berperang secara aktif di dalam penyebaran berita bohong yang dikenal dengan "haditsul-ifki", Allah Maha Mendengar segala apa yang diucapkan yang sifatnya menuduh dan ketentuan kebersihan yang dituduh, Maha Mengetahui apa yang terkandung dan tersembunyi di dalam hati mereka yang senang menyebarkan berita-berita keji yang memalukan orang lain.

Sobat. Ilmu yang benar tidak mungkin bertentangan dengan agama yang benar. Sains telah engbah pikirannya lebih dari sekali dalam satu masalah. Tetapi kitab yang ada di tangan kita ini (Al-Qur’an) tetap dalam kondisinya selama seribu empat ratus tahun.

Maka siapa pun yang menghendaki kebahagiaan yang sejati jadikanlah Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup. Jadikanlah Islam sebagai pandangan hidup dan ideologi dalam kehidupan kita.

Tingkatkan Iman Dan Kualitas Diri

Tingkatkan Iman Dan Kualitas Diri

Oleh: DR Nasrul Syarif M.Si.

Penulis Buku Gizi Spiritual dan Buku The Power of Spirituality

Tsaqofatuna.id - Sobat. Ilmu bertambah dengan belajar, kemampuan akal bertambah dengan pengalaman, agama bertambah dengan ibadah, akhlak bertambah dengan pendidikan, harta bertambah dengan pengelolaan yang baik dan penghematan, teman bertambah dengan perilaku yang baik, musuh bertambah dengan kesombongan, penyakit bertambah dengan banyak makan, penalaran tambah berkualitas dengan ketelitian, hati bertambah kuat dengan ujian dan cobaan, dan dzikir bertambah baik dengan meluruskan batin.

Sobat. Musibah adalah bahan pelajaran. Orang yang tidak pernah merasakan pahitnya kesempitan tidak akan merasakan nikmatnya kelapangan. Orang yang tidak pernah merasakan lapar tidak akan merasakan nikmatnya kenyang. Orang yang tidak pernah sakit tidak akan merasakan nikmatnya sehat. Orang yang tidak pernah dipenjara tidak akan merasakan indahnya kebebasan dan kemerdekaan. Sesungguhnya semua musibah itu merupakan pelajaran.

Sobat. Apalah artinya dunia tanpa iman dan amal sholeh. Seandainya Anda memiliki gudang dunia, tetapi tidak memiliki iman dan amal sholeh,ketahuilah Anda pasti celaka.

Allah SWT berfirman :

تِلۡكَ ٱلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ نَجۡعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوّٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فَسَادٗاۚ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” ( QS. Al-Qasas (28) : 83)

Sobat. Ayat ini menerangkan bahwa kebahagiaan dan segala kenikmatan di akhirat disediakan untuk orang-orang yang tidak takabur, tidak menyombongkan diri, dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi seperti menganiaya dan sebagainya. Mereka itu bersifat rendah hati, tahu menempatkan diri kepada orang yang lebih tua dan lebih banyak ilmunya. Kepada yang lebih muda dan kurang ilmunya, mereka mengasihi, tidak takabur, dan menyom-bongkan diri. Orang yang takabur dan menyombongkan diri tidak disukai Allah, akan mendapat siksa yang amat pedih, dan tidak masuk surga di akhirat nanti, sebagaimana firman Allah:

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Allah akan menyempurnakan pahala bagi mereka dan menambah sebagian dari karunia-Nya. Sedangkan orang-orang yang enggan (menyembah Allah) dan menyombongkan diri, maka Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih. Dan mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah. (an-Nisa'/4: 173)

Sabda Rasulullah saw:

Tidak akan masuk surga orang yang ada di dalam hatinya sifat takabur, sekalipun sebesar zarah. (Riwayat Muslim dan Abu Dawud dari Ibnu Mas'ud)

Ayat 83 ini ditutup dengan penjelasan bahwa kesudahan yang baik berupa surga diperoleh orang-orang yang takwa kepada Allah dengan mengamalkan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, tidak takabur dan tidak menyombongkan diri seperti Fir'aun dan Karun.

Allah SWT berfirman :

قُلْ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَمَن يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ فَذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمُ ٱلۡحَقُّۖ فَمَاذَا بَعۡدَ ٱلۡحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَٰلُۖ فَأَنَّىٰ تُصۡرَفُونَ

“Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah "Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?" Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” ( QS. Yunus (10) : 31-32)

Sobat. Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw, agar mengata-kan kepada penduduk Mekah yang menentang kenabiannya, bahwa siapakah yang menurunkan rezeki dari langit dan siapa pula yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan di bumi yang beraneka macam untuk manusia ataupun binatang ternak mereka?

Pernyataan ini dimaksudkan agar orang-orang musyrikin Mekah itu menyadari diri mereka sendiri dan ingat bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak sanggup menurunkan hujan dan yang menurunkan hujan itu hanyalah Allah.

Sobat. Selanjutnya Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk menanyakan kepada mereka bahwa siapakah yang kuasa menciptakan telinga sebagai alat pendengaran dan mata sebagai alat penglihatan mereka, sehingga dengan kedua indra itu, mereka dapat mengenal alam semesta dengan fenomenanya. Dengan telinga manusia dapat mendengar tutur kata orang lain dan dengan perantaraannya pula dapat menerima ilmu pengetahuan dan memperoleh pengalaman.

Demikian pula dengan penglihatannya, manusia dapat melihat keindahan alam dan dapat menerima isyarat-isyarat yang dapat menuntun pikirannya untuk mengetahui siapa pencipta alam semesta.

Sobat. Tanpa kedua indra ini, manusia tidak dapat mengetahui dengan sempurna keadaan alam dunia. Dua indra ini disebutkan dalam dua ayat ini karena kedua indera itulah yang menjadi alat untuk menerima ilmu pengetahuan, sehingga manusia mempunyai derajat lebih tinggi dari hewan. Sebab, meskipun hewan mempunyai pendengaran dan penglihatan, tetapi hewan tidak diberi akal oleh Allah, sehingga binatang itu tidak dapat menerima ilmu pengetahuan kecuali sekedar instink kebinatangan.

Sobat. Apabila manusia suka merenungkan siapa yang menciptakan kedua indera itu tentulah ia tidak akan ragu, bahkan tanpa berpikir panjang mereka dapat menemukan jawabannya. Apabila mereka menemukan jawabannya, tentulah mereka akan mensyukuri nikmat Allah serta akan beriman dengan iman yang sebenar-benarnya dengan mengakui bahwa tiada tuhan yang lain kecuali Zat Yang Berkuasa Yang menciptakan panca indera itu.

Sobat. Selanjutnya Allah memerintahkan kepada Rasulullah untuk menanyakan kepada orang-orang musyrik bahwa siapakah yang berkuasa menghidupkan dan mematikan, dan siapa yang menciptakan benda hidup dari benda mati dan menciptakan benda mati dari benda hidup? Pertanyaan ini sengaja ditanyakan untuk menumbuhkan kesadaran mereka, bahwa hanya Allah-lah yang menciptakan tumbuh-tumbuhan dari bumi yang mati, setelah bumi itu diberi kehidupan oleh Allah dengan menurunkan air hujan, firman Allah:

Apakah engkau tidak memperhatikan, bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi, kemudian dengan air itu ditumbuhkan-Nya tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya. (az-Zumar/39: 21)

Sobat. Tanda-tanda kehidupan pada setiap makhluk berbeda-beda. Tanda kehidupan pada tumbuh-tumbuhan ialah tumbuh-tumbuhan itu dapat terus tumbuh, berkembang, dan membesar, sedang tanda kehidupan bagi binatang ialah bergerak dan bernafas. Tanda kehidupan serupa itu mudah dipahami dan diterima oleh akal manusia.

Tetapi bagaimanakah tanda-tanda kehidupan dari biji-bijian, baik biji-bijian tunggal ataupun berkeping dua, atau tumbuh-tumbuhan spora, dan bagaimana pula kehidupan pada ovum dan sperma, baik dari binatang dan manusia. Hal ini adalah suatu tanda yang sukar dibayangkan dan dianalisa oleh manusia.

Sobat. Oleh sebab itulah, Allah memberikan tamsil yang mudah dipahami yaitu mengeluarkan benda hidup dari benda mati dan sebaliknya bagaimana mengeluarkan benda mati dari benda hidup untuk menyatakan kekuasaan Allah menciptakan segala benda mati ataupun benda hidup dengan kekuasaan-Nya.

Sobat. Apabila seseorang mau meneliti asal mula kejadian biji-bijian, spora, ovum, dan sperma serta segala macam asal kehidupan, maka mereka akan sampai pada kesimpulan bahwa asal mula kehidupan makhluk yang ada di bumi berasal dari benda mati. Sudah tentu pendapat ini berlawanan dengan pendapat para ahli biologi yang mengatakan bahwa segala jenis yang hidup tidak akan timbul kecuali dari yang hidup. Memang pendapat ini kelihatannya benar apabila kita tinjau dari siklus peredaran kehidupan binatang dan tumbuh-tumbuhan, akan tetapi apabila ditinjau dari asal mula kejadiannya tentulah pendapat tadi tidak tepat.

Selanjutnya Allah memerintahkan kepada Rasulullah saw untuk menanyakan siapakah yang mengendalikan segala macam urusan makhluk di muka bumi ini? Pengendaliannya sangat mengagumkan. Segala macam kehidupan diatur dengan hukum-hukum yang serasi dan seimbang. Maka bagi orang yang mau merenungkan hukum-hukum-Nya ia akan memberikan jawaban dari semua pertanyaan itu bahwa yang menciptakan segala-galanya ialah Allah, Tuhan seru sekalian alam dan Dia pula yang mengurus dan mengendalikannya.

Allah memerintahkan kepada Nabi saw agar mengatakan kepada kaum musyrikin, mengapa mereka tidak memelihara diri mereka agar terlepas dari kesesatan? Apabila mereka mau memelihara diri mereka tentulah mereka tidak akan terjerumus kepada kemusyrikan dan menjadi penyembah-penyembah berhala. Sembahan-sembahan selain Allah itu sedikitpun tidak mempunyai kekuasaan untuk mendatangkan kemudaratan atau kemanfaatan kepada mereka.

Sobat. Kemudian ayat ini mengisyaratkan kepada orang-orang musyrikin Mekah bahwa Zat yang mempunyai sifat-sifat yang telah disebutkan terdahulu ialah Allah Yang memelihara mereka, Dialah Tuhan Yang Hak, Yang Hidup dan menghidupkan. Dan Dialah Yang berhak untuk disembah. Dan Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar menyatakan kepada mereka bahwa tidak ada Tuhan yang mengurus segala urusan di dunia ini selain Allah.

Sobat. Allah menyalahkan perbuatan mereka dan meminta pertanggungjawaban mengapa mereka menyeleweng dari agama yang benar yaitu agama tauhid kepada sesuatu yang batil, seolah-olah mereka itu lari dari petunjuk Allah dan mencari jalan yang sesat, padahal mereka mengetahui bukti-bukti kebenaran adanya Allah Tuhan Yang sebenarnya. Apabila mereka telah mengetahui bukti-bukti adanya Allah Pencipta alam maka seharusnya mereka tidak mau menyembah tuhan-tuhan yang lain. Sebab apabila terjadi demikian, berarti pengakuan mereka berbeda dengan perbuatan, dan apa yang terbetik dalam hati mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.

Sobat. Bagi siapa yang bersikap menghambakan dirinya kepada Allah berarti mereka telah menempuh jalan yang benar dan mendapat petunjuk-Nya, karena mereka menyembah Tuhan yang benar. Tetapi orang-orang yang menyembah tuhan-tuhan selain Allah, mereka itulah orang-orang yang sesat, karena mereka menyembah tuhan yang tidak berhak disembah yang mereka anggap sebagai perantara. Setiap orang yang menyembah tuhan-tuhan selain Allah adalah orang-orang musyrik dan bergelimang dalam kebatilan serta terjerumus dalam lembah kesesatan.

Amaliyah Dakwah Rasulullah ﷺ Mengikuti Marhalah Dakwahnya

Amaliyah Dakwah Rasulullah ﷺ Mengikuti Marhalah Dakwahnya

DR Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Buku BIGWIN

Tsaqofatuna.id - Sobat. Sebagaimana artikel sebelumnya ada tiga tahapan atau marhalah dakwah Rasulullah SAW :

1. Marhalah tatsqif wa takwin. Tahap Pembinaan dan Pembentukan. Pembinaan kader dakwah dan pembentukan kerangka gerakan.

Rasul memulai dakwah dengan mengajak manusia memeluk Islam.Rasul membina mereka dengan pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum Islam. Rasul menghimpun mereka dalam satu kutlah (kelompok).Pembentukan kutlah dakwah dilakukan secara rahasia.Rasul membina di rumah-rumah mereka, terkadang di bukit-bukit, terkadang di rumah al-Arqam. Tahap ini berakhir setelah turun perintah untuk berdakwah secara terang-terangan (QS. Al-Hijr: 94).

2. Marhalah tafa’ul ma’al ummah wal kifah.Tahap Interaksi dan Perjuangan. Berinteraksi di tengah masyarakat dan melakukan perjuangan politik. Melakukan thalabun nushroh.

Tahap ini dimulai dengan menampakkan kutlah (kelompok dakwah Rasulullah SAW) secara terang-terangan.Uslub yang digunakan Rasul yaitu dengan keluar bersama shahabat dalam 2 kelompok.Mereka keluar dengan barisan rapi mengitari Ka’bah.Mereka mendakwahkan Islam dan mengkritik sesembahan orang-orang kafir.

Amaliyah dakwah yang dilakukan oleh kutlah ini adalah:

1. Shiro’ul fikri, yaitu melakukan pergolakan pemikiran.

2. Kifahus siyasy, yaitu melakukan interaksi politik.

3. Kasyful khuthath, yaitu mengungkap ide kufur dan persengkongkolan orang-orang kafir.

4. Tabanny masholihul ummah, yaitu menjelaskan hak-hak kemashlahatan yang seharusnya diterima oleh ummat.

Ketika dakwah terus meluas, tekanan dakwahpun semakin menghebat, Rasul menyelesaikan tahap ini aktivitas tholabun nushroh, Tholabun nushroh, yaitu meminta pertolongan dan perlindungan kepada pemilik kekuasaan, agar mereka mau menyerahkan kekuasaannya.

Amaliyah Thalabun Nushrah: Rasul SAW mencari nushrah ke Thaif, menemui pemimpin Bani Tsaqif. Tetapi upaya ini gagal dan tertolak. Rasulullah SAW menemui pemimpin qabilah-qabilah yang datang ke musim Haji di Makkah untuk meminta nushrah. Tetapi juga gagal. Thalabun Nushrah yang sukses adalah dari Mush’ab Bin Umair di Yastrib. Puncak dari tahap ini ditandai dengan Bai’at Aqobah 2.

3. Marhalah tathbiq ahkamul Islam. Tahap Penerapan Hukum-hukum Islam.Menerapkan hukum Islam di dalam negeri dan mengemban dakwah dan jihad ke luar negeri.

Dalam Marhalah Tathbiq Ahkamul Islam. Di Madinah Rasul memulai dengan membangun masjid sebagai tempat shalat, bermusyawarah dan mengatur urusan masyarakat. Rasul mengangkat Abu Bakar dan Umar sebagai wazir. Rasul menjadi pemimpin negara, hakim dan komandan pasukan.

Rasul mengatur urusan pemerintahan dan menyelesaikan pertikaian dan perselisihan dengan hukum Islam. Rasul juga mengangkat komandan-komandan pasukan dan mengirimkannya ke luar madinah untuk mengemban dakwah dan jihad. Ketika Rasul wafat wilayah kekuasaan Rasul sudah meliputi seluruh jazirah Arab.

Allah SWT berfirman :

وَأَنِ ٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡ وَٱحۡذَرۡهُمۡ أَن يَفۡتِنُوكَ عَنۢ بَعۡضِ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَٱعۡلَمۡ أَنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُصِيبَهُم بِبَعۡضِ ذُنُوبِهِمۡۗ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ لَفَٰسِقُونَ

“dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” ( QS. Al-Maidah (5) : 49 )

Sobat. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan al-Baihaqi dari Ibnu Abbas, bahwa Kaab bin Asad, Abdullah bin Suriya, Wisyas bin Qais dari orang-orang Yahudi berkata "Mari kita pergi kepada Muhammad, mudah-mudahan kita dapat menyesatkannya." Maka pergilah mereka menghadap Rasulullah lalu mereka berkata kepada Rasulullah saw.:

"Hai Muhammad, kamu telah mengetahui bahwa kami ini adalah pendeta Yahudi, para pembesar dan pemimpinnya. Kalau kami mengikuti kamu, orang-orang Yahudi pasti mengikuti kami dan tidak akan ada di antara mereka yang berani menentang. Di antara kami dan kaum kami ada sengketa. Persengketaan itu akan kami bawa kepadamu, maka hendaklah engkau memenangkan kami terhadap mereka, dan kami akan beriman dan akan membenarkan kamu. Maka Rasulullah enggan (mengikuti kehendak mereka) itu dan Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat tentang perkara mereka.... wa anihkum bainahum bima anzala Allah...."(Riwayat Ibnu Jarir dan al-Baihaqi dari Ibnu Abbas)

Sobat. Nabi saw menolak permintaan mereka, maka turunlah ayat ini. Nabi Muhammad agar memutuskan perkara orang-orang Yahudi yang diajukan kepadanya sesuai dengan apa yang telah diturunkan Allah dan jangan sekali-sekali menuruti keinginan dan kehendak hawa nafsu mereka. Allah mengingatkan kepada Nabi supaya berhati-hati menghadapi siasat mereka, jangan sampai terjebak oleh tipu daya mereka yang ingin menyelewengkan beliau dari sebagian hukum yang telah diturunkan dan digariskan Allah kepadanya.

Kalau mereka masih juga berpaling dan tidak mau menerima keputusan yang berdasarkan apa yang telah diturunkan Allah karena memang maksud mereka meminta kepada Nabi untuk memutuskan perkaranya sekedar untuk memancing dan menjebaknya, kalau-kalau bisa berpaling dari hukum Allah.

Ketahuilah bahwa yang demikian itu karena Allah menghendaki akan menimpakan azab kepada mereka di dunia, akibat dosa-dosanya dan akan disempurnakan nanti di akhirat, siksaan yang amat pedih. Memang kebanyakan manusia adalah fasik, bersifat seperti orang-orang kafir, senang meninggalkan hukum-hukum Allah dan syariat yang telah dipilihkan untuk mereka.

Aktivitas yang dilakukan oleh Rasulullah SAW saat di Madinah adalah aktivitas Rasul sebagai kepala Negara dan Hakim.

Bagaimana aplikasi ‘Amaliyah Dakwah dan Thoriqoh dakwah Rasulullah SAW di era kekinian? Jangan ke mana-mana. Nantikan artikel selanjutnya masih bersama kami.