Kabar

Tsaqofah

Opini

+ Indeks Berita

FIWS Ungkap Tiga Alasan Penjajah Yahudi Berani Merobek Piagam PBB

FIWS Ungkap Tiga Alasan Penjajah Yahudi Berani Merobek Piagam PBB

Tsaqofatuna.id - Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS), Farid Wadjdi ungkap tiga alasan entitas penjajah Zionis Yahudi (Israel) berani merobek Piagam PBB.

"Pertama, karena entitas penjajah Yahudi mengetahui, apapun yang mereka lakukan itu didukung oleh Amerika Serikat (AS). Amerikalah yang sebenarnya memiliki kepentingan," ujarnya dalam Kabar Petang: Amerika Sponsor Utama Terorisme? Dikanal Youtube Khilafah News, Rabu (22/5/2024).

Farid menjelaskan, AS sebagai pemilik hak veto di PBB dan sekutu-sekutu negara Baratnya memiliki kepentingan terhadap keberadaan entitas penjajah Yahudi untuk memecah belah dan menimbulkan kekacauan di negeri-negeri Islam.

Menurut Farid merupakan kepentingan imperialisme Barat untuk mencegah penyatuan dan kebangkitan umat Islam di dunia seperti yang pernah dikatakan Perdana Menteri Inggris Henry Campbell Bannerman pada tahun 1906.

"Dia katakan, ada satu kawasan di dunia yang memiliki satu keyakinan, satu bahasa, satu komunitas dan memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Jikalau bangsa-bangsa ini bersatu, maka dunia akan mereka kuasai. Siapa yang mereka maksud? Itu adalah negeri-negeri Islam di Timur Tengah," sebutnya.

Maka kata Farid, Barat yang pada awalnya melalui Inggris telah membidani kelahiran entitas penjajah Yahudi ini dengan Deklarasi Balfour, kemudian mempermudah atau melegitimasi masuknya orang-orang Yahudi ke Palestina yang diperkuat oleh PBB.

"Jadi, keberadaan entitas penjajah Yahudi ini dibutuhkan Barat. Entitas penjajah Yahudi tahu, apapun yang mereka lakukan akan didukung oleh Amerika Serikat , karena Amerika Serikat juga telah mengatakan bahwa membela entitas penjajah Yahudi ini adalah harga mati," tegasnya.

Kedua, lanjut Farid, entitas penjajah Yahudi mengetahui bahwa penguasa-penguasa negeri Islam terutama penguasa Arab tidak akan melakukan apapun.

"Tidak akan melakukan tindakan yang signifikan untuk menghancurkan mereka, karena penguasa-penguasa Arab ini berada di bawah kendali Amerika Serikat dan tunduk kepada Amerika Serikat. Itu diketahui persis oleh entitas penjajah Yahudi. Ini tentang pengkhianatan penguasa Arab," tandasnya.

Ketiga, sambungnya, entitas penjajah Yahudi juga mengetahui bahwa negeri-negeri Islam sekarang ini sulit untuk disatukan, itu karena adanya sistem politik yang direkayasa oleh Barat. Yaitu, sistem politik negara bangsa yang telah memecah belah negeri-negeri Islam, termasuk negeri-negeri Islam di wilayah Arab.

"Negara-negara bangsa inilah yang lahir dari rahim kolonialisme yang menjadi semacam penjara besar menghalangi umat Islam untuk bersatu," imbuhnya memungkasi.

Sebelumnya, Duta Besar Israel untuk PBB Gilad Erdan, secara dramatis merobek-robek salinan PBB pada pertemuan Majelis Umum yang diadakan pada Jumat (10/5/2024). Erdan memprotes keputusan Majelis Umum PBB yang memilih mengakui keanggotaan penuh Palestina di badan internasional tersebut.

Saat berpidato di depan majelis, menggunakan mesin penghancur mini Erdan pun menghancurkan salinan perjanjian dasar PBB sambil mengecam negara-negara yang mendukung resolusi tersebut dan berteriak, “Kamu memalukan!” [] Muhar

Makna Kebahagiaan Ideologi Kapitalisme Adalah Meraih Keuntungan Materi

Makna Kebahagiaan Ideologi Kapitalisme Adalah Meraih Keuntungan Materia

Tsaqofatuna.id - Aktivis Dakwah Ustadzah Nikmah Mu'awanah dari Muslimah Media Center (MMC) menyatakan, makna kebahagiaan dalam pandangan hidup (ideologi) kapitalisme adalah meraih keuntungan materi yang sebesar-besarnya.

"Asas kapitalisme adalah memisahkan aturan agama dari kehidupan. Makna kebahagiaannya meraih keuntungan sebesar-besarnya," ujarnya dalam program Blusukan Kru MMC: [Bojonegoro] Emak-emak Hidup dalam Bayang-bayang Utang dengan Bunga Selangit, pada Minggu (19/5/2024), di kanal YouTube Cahaya Islam TV.

Karena itu, kata Nikmah, tak heran jika kehidupan masyarakat yang bersistem ekonomi Kapitalisme tidak bisa dilepaskan dari transaksi-transaksi atau akad-akad yang batil.

"Tak mengenal konsep halal dan haram sebab terpisahnya aturan agama dari kehidupan. Wajar, jika ada riba atau bunga dalam akad utang piutang," jelasnya.

Nikmah mencontohkan, fenomena persoalan utang berbunga yang terjadi pada masyarakat hari ini yang sudah dianggap biasa. Menurutnya, banyaknya emak-emak yang terlilit utang bahkan terjerat pinjol (pinjaman online) ilegal juga karena tidak bisa dilepaskan akibat dari kapitalisme.

"Ini akibat ulah yang dilakukan para pengusaha berotak kapitalis dalam mencari peluang investasi melalui pinjol," sebutnya.

Ia pun menerangkan bahwa hal itu terjadi karena pemerintah Indonesia hanya menilai dampak buruk pinjol semata-mata akibat maraknya pinjol yang ilegal.

Dari penilaian itu, akhirnya lanjut Nikmah, upaya yang dilakukan pemerintah pun hanya menutup praktik pinjol ilegal. Sedangkan, masyarakatnya tetap dianjurkan untuk memanfaatkan pinjol yang legal.

"Padahal yang menjadi masalah bukan praktik pinjol ilegal dan yang legal. Namun, masalah sebenarnya adalah adanya praktik ribawi pada keduanya," terangnya.

Nikmah lantas menegaskan, begitulah ketika sebuah negara menganut ideologi kapitalisme.”Praktik apapun sah-sah saja asalkan mendapat keuntungan besar," pungkasnya. [] Muhar.

Penjajahan Model Baru, Menggiring Ketaatan Kaum Muslimin Kepada Barat

Penjajahan Model Baru, Menggiring Ketaatan Kaum Muslimin Kepada Barat

Tsaqofatuna.id - Penjajahan model baru berhasil menggiring ketaatan dan loyalitas kaum Muslimin kepada Barat. Hal itu dinyatakan Narator Muslimah Media Center (MMC) dalam program One Minute Booster Extra: Dakwah Mengeluarkan Umat Manusia dari Segala Bentuk Penjajahan, di kanal YouTube MMC, Selasa (7/5/2024).

"Hari ini kaum Muslimin berada dalam penjajahan model baru. Yakni penjajahan pemikiran, budaya, ekonomi, politik dan penjajahan ideologi, bahkan militer. Kondisi tersebut berhasil menggiring kaum Muslimin mengalihkan ketaatan dan loyalitasnya secara mutlak," tuturnya.

Narator mengulas, ketaatan yang seharusnya hanya diberikan kepada Allah SWT dan syariat-Nya, saat ini telah diberikan kepada pemikiran dan peradaban Barat.

"Akibatnya, tidak ada satupun sisi yang bisa digunakan kaum Muslimin untuk mengakhiri eksistensi penjajah Barat ini. Sampai pada kadar kita memahami agama kita dengan cara dan berpikir mereka," ulasnya.

Ia juga mengungkapkan, jika ada orang yang melawan cara pandang atau cara berpikir Barat, maka negara-negara Barat tidak segan-segan menggerakan media massa untuk menyerang orang tersebut, kemudian menggambarkannya dengan image (citra) yang negatif.

"Orang tersebut digambarkan menantang kemapanan, keluar dari kelaziman, merusak ijma' (persatuan) dan mendeskripsikannya sebagai ekstremis, teroris, fundamentalis dan radikal, bahkan menyebut orang tersebut sebagai musuh kemanusiaan dan orang-orang bodoh yang tidak layak hidup kecuali dalam kegelapan dan permusuhan," ungkapnya.

Denyut Kebangkitan

Di tengah upaya membungkam kebenaran yang dilakukan oleh Barat tersebut, Narator juga berujar, hari ini umat Islam dapat menyaksikan mulai berdenyutnya kebangkitan. "Umat melihat Barat bagaikan melihat setan. Munculnya orang-orang yang loyal terhadap kepentingan Barat diyakini akan musnah dengan berakhirnya masa kemunduran Islam," ujarnya.

Maka, ia menyerukan, opini Islam sebagai sebuah ideologi yang akan mengantarkan umat pada kebangkitan Islam harus terus disuarakan oleh para pengemban dakwah.

"Para pengeman dakwah harus meyakinkan umat bahwa Islam datang untuk menjawab seluruh problematika manusia secara tuntas dan benar. Islam merupakan aturan yang integral atau menyeluruh dan mengatur setiap perbuatan manusia," terangnya.

Narator lantas menegaskan, Islam adalah pemikiran menyeluruh yang menjadikannya sebuah solusi yang mampu menjawab setiap hal yang berkaitan dengan urusan hidup kaum Muslimin.

"Tegak di atas asas yang memancarkan setiap solusi hakiki kebangkitan Islam yang ditandai dengan tegaknya hukum-hukum Islam yang akan mengeluarkan umat Islam dari segala bentuk penjajahan," jelasnya.

Maka, pesan Narator, sungguh mulia posisi pengemban dakwah yang menyelamatkan manusia dari segala bentuk penjajahan ini. "Karena itu, teruslah berdakwah hingga Allah memenangkan umat dan dakwah ini atau kita binasa karenanya!" Seru Narator mengakhiri. [] Muhar